Kenyataan “Tidak Optimis” Tidak Hilang di Tengah Kematian Baghdadi

2019-10-28 11:55:01

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hari Minggu kemarin (27/10) mengumumkan, gembong Negara Islam Irak dan Suriah yakni ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi sudah tewas terbunuh dalam aksi militer yang dilancarkan tentara AS di bagian barat laut di Suriah pada Sabtu malam lalu. Analis berpendapat, Trump mengumumkan kabar tentang terbunuhnya Baghdadi adalah untuk mengkhotbahkan hasil pemerintahannya dan menopang kebijakannya di kawasan Timur Tengah, sekaligus dijadikannya sebagai modal politiknya dalam kampanye terpilihnya kembali sebagai Presiden AS. Harus diakui bahwa tewasnya Baghdadi adalah pukulan berat bagi ISIS, namun tidak cukup untuk membasmi organisasi ekstremis tersebut, juga tidak bisa memperbaiki situasi antiterorisme secara fundamental di kawasan tersebut.

Pemilu AS akan digelar pada tahun depan. Akan tetapi, Donald Trump yang ingin terpilih kembali sedang menghadapi tekanan internal dalam negeri. Sosok presiden ini tidak hanya menghadapi pemeriksaan pemakzulan karena “skandal telepon”, juga dikritik keras gara-gara memerintahkan tentara AS mengundurkan diri dari Suriah Utara sehingga membuka jalan bagi tentara Turki untuk menyerbu masuk ke daerah itu dan menyerang kekuatan Kurdi yang selama ini menjadi sekutu AS dalam perang melawan terorisme. Pasukan Kurdi di Suriah mencela tindakan AS tersebut sebagai pengkhianatan. Partai Republik dan opini umum AS sama-sama mengkritik keputusan Trump terebut sebagai tidak menguntungkan kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.

Bao Chengzhang, sarjana dari Balai Penelitian Timur Tengah Universitas Bahasa Asing Shanghai menunjukkan, Donald Trump mengumumkan kabar tewasnya Baghdadi tak lama setelah penarikan tentara AS dari Suriah. Tujuannya adalah memperagakan “hasil simbolis antiterorisme” itu untuk merespon kritik dari berbagai pihak, atau menyelamatkan citranya yang tercoreng setelah penarikan tentara dari Suriah.

Javed Ali yang pernah menjabat sebagai pejabat untuk urusan antiterorisme Gedung Putih mengatakan, terbunuhnya Baghdadi barang kali adalah pukulan berat bagi ISIS, akan tetapi, ini tidak berarti kekuatan ISIS sudah mengalami “kegagalan strategis”. Sama halnya, setelah pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden tewas, Al Qaeda tidak menghilang secara otomatis.

Ahli antiterorisme dari Akademi Hubungan Internasional Modern Tiongkok, Li Wei berpendapat, tewasnya Baghdadi barang kali akan mengakibatkan daya kontrol ISIS terhadap cabangnya di berbagai negara semakin melemah, sehingga berbagai cabangnya akan mengambil tindakan secara lebih inisiatif, dan seiring dengan kembalinya sejumlah teroris ke negara asalnya di Eropa, kemungkinan terjadinya serangan teror bersifat “membalas dendam” semakin meningkat.



Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok