“Repeater” Cap Pompeo Jadikan AS Lebih Terisolasi

2019-06-13 10:25:34

Selama satu tahun lebih sejak Mike Pompeo menjabat menteri luar negeri AS, yang paling menarik perhatian ialah dia selalu mendiskreditkan Tiongkok di berbagai lapangan.

Belakangan ini, Pompeo sekali lagi menghasut kerja sama antara Tiongkok dengan negara-negara sepanjang “sabuk dan jalan”, menyalahkan perusahaan Huawei dan perusahaan Tiongkok lainnya adanya “risiko keamanan”, sementara menyebarkan desas-desus tentang Daerah Otonom Uyghur Xinjiang, Tiongkok.

Misalnya, Pompeo mencela pemerintah Tiongkok yang merusak kebebasan beragama penduduk setempat, menahan tokoh etnis minoritas di dalam “kamp pendidikan ulang”. Namun, kenyataannya ialah kini di Xinjiang terdapat 24.400 ribu mesjid, rata-rata setiap 530 penduduk kaum Muslim memiliki satu mesjid. Sedangkan di AS, jumlah mesjid tidak sampai seper sepuluh dibandingkan dengan Xinjiang. Yang diselenggarakan di Xinjiang adalah pusat penataran pendidikan vokasional, tujuannya ialah membantu mereka yang terpengaruh oleh pikiran terorisme dan ekstremisme untuk belajar bahasa Mandarin, pengetahuan hukum dan keterampilan vokasional dan kemudian kembali ke masyarakat. Justru karena itulah, sudah hampir 3 tahun tak terjadi peristiwa kekerasan dan teror di Xinjiang. Pada tahun 2018, Xinjiang telah menerima wisatawan dalam dan luar negeri sejumlah 150 juta, naik 40% dibandingkan dengan masa sama tahun sebelumnya, di antaranya turis asing melampaui 2,4 juta, naik 10,78%.

Misalnya lagi, sejak menjabat menteri luar negeri, Pompeo terus mencela inisiatif “sabuk dan jalan” telah merusak kedaulatan berbagai negara. Pada kenyataannya, di atas Forum Puncak Kerja Sama Internasional “Sabuk dan Jalan” kedua yang baru saja berakhir, sejumlah 6.000 wakil dari 150 negara dan 92 organisasi internasional, di antaranya termasuk 50 wakil dari AS tampak menghadiri forum, hal itu merupakan dukungan masyarakat internasional terhadap inisiatif “sabuk dan jalan”.

Baru-baru ini, ketika mengunjungi Jerman, Swiss, Belanda dan Inggris, Pompeo sekali lagi mengintimidasi sekutunya untuk tidak menggunakan teknologi Tiongkok, karena terdapat risiko pembocoran rahasia. Namun, dalam wawancaranya dengan CNBC pada bulan Mei lalu, Pompeo tak dapat menyediakan bukti bahwa perusahaan Huawei “mengancam” keamanan nasional AS. Dia sudah lupa kenyataan bahwa justru karena Eropa menggunakan teknologi AS, ponsel Kanselir Merkel disadap. Oleh karena itu, ketika Pompeo mengancam bahwa AS akan mengurangi pembagian informasi dengan negara-negara yang menggunakan teknik dan perlengkapan Huawei, Menteri Luar Negeri Jerman menanggapinya bahwa Jerman tidak akan mengesampingkan perusahaan yang ikut tender apabila mencapai standar keamanan Jerman.

Sebagai satu-satu negara adikuasa di dunia, yang diperlukan oleh AS adalah seorang diplomat senior profesional, tetapi bukan sebuah “repeater” yang hanya mampu mengulangi dusta “Tiongkok tidak baik”. Pernyataan Pompeo yang kehilangan akal baik akan menyebabkan AS menjadi lebih terisolasi.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok