“Serangan Kimia” di Suriah Hanya Sandiwara

2019-02-17 19:57:26

“Serangan Kimia” di Suriah Hanya Sandiwara

Baru-baru ini sebuah berita terkait Suriah yang menghebohkan sedang disebarkan di seluruh dunia: Produser BBC Riam Dalati menyatakan, setelah melakukan investigasi sepanjang 6 bulan, dia sudah menkonfirmasi, bahwa video tentang “serangan senjata kimia” yang terjadi di Douma, Suriah adalah karya penyutradaraan. Sebelumnya pihak Rusia pun mengungkapkan rincian proses penyutingan video tersebut. Sedangkan, alasan terbesar bagi Amerika, Inggris dan Prancis melancarkan serangan udara terhadap Suriah, justru berdasarkan “serangan kimia” dalam video tersebut.

Yang mengejutkan ialah, tindakan serupa yang dengan tujuan politik dan militer membikin berita palsu, sering dilakukan oleh media utama dunia Barat. Sebagai diketahui umum, Perang Irak yang terjadi pada tahun 2003, ialah serangan bersenjata yang dilakukan pemerintah Amerika dengan berdasarkan bukti palsu terhadap sebuah negara berdaulat tanpa disahkan PBB. Perang Irak mengakibatkan ratusan ribu rakyat Irak tewas, puluhan tentara AS jadi korban. Namun sampai sekarang, dalam kalangan politik Amerika maupun Inggris, tidak ada seorang pun ingin bertanggungjawab atas kesalahan dan kebohongan dirinya pada waktu itu. Di antara media utama Amerikta yang sebelumnya mendukung perkataan “penggunaan senjata kimia oleh Irak”, pun jarang ada orang bertanya apakah benar atau palsunya bukti tersebut.

Keadaan serupa terjadi lagi dalam laporan media utama Barat terhadap Tiongkok. Tak lama yang lalu, CNN melaporkan “pengalaman” seorang wanita beretnis Uyghur yang bernama Mihrigul Tursun. Menurut dia, 68 orang ditahan dalam sebuah ruang seluas 37 meter persegi, banyak orang meninggal. Tahun lalu, Mihrigul Tursun menceritakan “pengalaman”nya di Kongres Amerika sebagai saksi. Kesaksiannya ternyata palsu, tapi malah menjadi bukti penting bagi senator AS Marco Antonio Rubio yang mengajukan dan mempromosi apa yang disebut “Rancangan Undang-Undang Kebijakan Hak Asasi Manusia Uyghur”. Kesaksian akhirnya dibuktikan sama sekali kebohongan, tapi laporan CNN terkait tetap terlihat di situs web dan terus dikutip oleh media lain.

Baru-baru ini, media Barat melaporkan, musisi terkenal Uyghur Abdurehim Heyit meninggal dalam penjara, pemerintah Turki masih mencela Tiongkok terhadap hal tersebut. Akan tetapi video terbaru menunjukkan, Heyit masih hidup dan sangat sehat, dirinya menyatakan keliru atas kabar “dimatikan”.

Kenyataan bagaikan jiwa jurnalistik. Mengapa media Barat masih melakukan kesalahan serius tersebut, bahkan menjadi bantuan bentrokan, perang dan pembunuhan?

Media Barat selalu memandang dirinya sebagai pelaku dan pembela HAM dan standar kebebasan dunia. Sikap yang sering digunakan mereka adalah mencela dan mengkritik, jarang bersikap sama derajat dan menghormati. Apa yang disebut kebebasan pers yang dipegang media Barat, sebenarnya adalah kebebasan yang mendistriminasi, menimbal balikkan serta mengkontaminasi negara berkembang.

Kini media utama Barat menduduki posisi dominan dalam penyiaran internasional. Kecenderungan pihak Barat selalu mempengaruhi arah perkembangan opini internasional. Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan “tidak mengejutkan” terhadap hasil penyelidikan produser BBC tersebut. dia menyatakan, sekarang politikus dari Amerika dan Eropa sedang berupaya melupakan serangan rudal yang dilancarkan dengan alasan melindungi rakyat Suriah terhindar dari “serangan kimia”. Laporan media Barat terhadap hasil penyelidikan Dalati hampir tidak, ternyata mereka sekali lagi memilih tutup mulut.

Sebaiknya kita menunggu sandiwara apa yang dimainkan media Barat selanjutnya.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok