Konflik Palestina-Israel Tahun 2018

2019-01-12 15:02:12

Tahun 2018 adalah tahun ke-12 Jalur Gaza diblokir. Pada tahun itu, Palestina dan Israel terlibat dalam konflik yang baru. Pada bulan Mei 2018, Amerika memindahkan Kedutaan Besarnya untuk Israel ke Yerusalem, sehingga membuka konflik Palestina-Israel pada tahun itu. Namun, Jalur Gaza sekali lagi menjadi korban konflik itu. Blokir selama 12 tahun dan konflik yang bertahun-tahun itu telah memungkinkan Jalur Gaza menjadi semakin bobrok.

Pada Desember 2017, Amerika mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Oleh karena itu, sejak tanggal 30 Maret tahun 2018, orang Palestina mulai mengadakan demonstrasi “Pawai Kepulangan” di Jalur Gaza, menuntut Israel mengakhiri pendudukan dan blokir, dan unjuk rasa itu berlangsung sampai sekarang. Pada Mei 2018, Amerika memindahkan Kedutaannya untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Hal itu telah meningkatkan konflik Palestina-Israel. Pada bulan November, Palestina dan Israel terlibat dalam konflik bersenjata yang paling sengit sejak tahun 2014, telah mengakibatkan korban tewas dan cedera yang parah. Lebih dari 7 bulan ini, bentrokan Palestina-Israel di daerah perbatasan Jalur Gaza telah mengakibatkan setidaknya 230 orang Palestina ditembak mati oleh tentara Israel, dan 20 ribu orang Palestina lainnya cedera. Menurut statistik, jumlah proyektil roket yang diluncurkan oleh organisasi bersenjata di Jalur Gaza ke Israel tahun lalu merupakan terbesar selama 5 tahun terakhir ini.

Akan tetapi, proyektil roket dalam jumlah besar itu tidak meredakan kesulitan orang Gaza. Tempat itu malah menjadi semakin depresi dan bobrok, suasananya juga menjadi semakin tegang.

Blokir dan konflik bersenjata yang bertahun-tahun itu terus memburukkan krisis kemanusiaan. Kalangan yang paling terganggunya adalah anak-anak.

Di Sekolah Dasar Pengungsi Shajaiya yang dibangun dengan bantuan PBB itu, Penanggungjawab Kantor Pendidikan Bagian Timur Jalur Gaza Badan Pekerjaan dan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), Dr. Rafat Habbash menyatakan, karena Amerika telah mengurangi bantuannya kepada PBB, maka PBB tahun lalu telah membubarkan sekitar 200 karyawan lokal di Gaza, dan juga mengubah kontraknya dengan lebih dari 1000 karyawan menjadi kontrak sementara, mayoritas di dalam mereka adalah konsultan sosial dan psikolog. Di bidang pendidikan, meskipun sekolah yang dibantu PBB itu belum ditutup, tapi jumlah anak pengungsi di Jalur Gaza cukup banyak sehingga bangunan sekolah amat kurang, maka anak-anak tak dapat bersama-sama masuk sekolah, hanya dapat masuk sekolah dalam salah satu bagian waktu pada pagi, siang dan sore dari jam 6.30 hingga 16.30.

Guru bahasa Inggris di sekolah itu, Mysoon A. A. Merasa sangat tak berdaya dan marah, ia mengimbau masyarakat internasional banyak memperhatikan anak Gaza, agar mereka dapat memiliki kehormatan dan hak untuk menerima pendidikan justru seperti anak-anak di negara lain.

Konflik-konflik telah membikin orang Jalur Gaza sangat menderita. Sebenarnya siapa yang membikin semuanya?

Dekan Institut Tiongkok-Arab Universitas Ningxia, Li Shaoxian menunjukkan, pecah-belah dalam Palestina dan berhentinya proses perdamaian Palestina-Israel membikin Jalur Gaza berangsur-angsur terjerumus dalam kesulitan.

“Ada dua sebabnya, pertama adalah pecah-belah dan kesulitan di dalam Palestina, karena HAMAS dan Otoritas Nasional Palestina sudah pecah belah, maka telah mengurangi kekuatan Palestina, sementara itu, juga sulit mengadakan perundingan dengan Israel. Kedua adalah kesulitan dalam proses perdamaian, khususnya sesudah Donald Trump memangku jabatan presiden Amerika, proses perdamaian hampir sudah tidak ada lagi. Trump sekarang langsung menantang peta jalan kedua negara itu, sehingga menimbulkan pembrontakan rakyat Palestina di Jalur Gaza dan tepi barat sungai Yordan, khususnya di Jalur Gaza. Sebenarnya itulah bencana kemanusiaan yang sangat parah.”

Keadaan di daerah Paletina dan Israel membikin masa depan Gaza semakin gelap. Bagaimana mengakhiri tragedi Jalur Gaza? Bagaimana menyelesaikan kemacetan itu? Li Shaoxian berpendapat bahwa masalahnya sudah sangat jelas tapi sulit dilaksanakan.

“Pertama, harus meningkatkan rekonsiliasi di dalam Palestina, itu susah dilaksanakan tapi merupakan prasyaratnya. Kedua adalah memajukan proses perdamaian, tapi itu malah lebih susah lagi. Apa yang disebut sebagai “solusi centuri (deal of the century)” yang diajukan pemerintah Donal Trump itu apakah dapat memajukan proses perdamaian? Atau seperti opini sejumlah besar orang bahwa itu akan memburukkan hubungan Palestina-Israel? Ingin menyelesaikan krisis kemanusiaan Jalur Gaza masih membutuhkan proses perdamaian, masih membutuhkan perundingan antara Palestina dan Israel.”

Tahun-tahun belakangan ini, masalah titik panas yang terus muncul itu telah menutupi konflik Palestina-Israel, juga membikin krisis kemanusiaan Jalur Gaza jarang kelihatan oleh dunia internasional. Tapi kehidupan tragis rakyat Palestina tidak boleh dikesampingkan, mereka memiliki hak setara dengan orang lain.


Foto Terpopuler

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok