Mengapa Begitu Sulitnya Proses “Brexit” Inggris

2019-01-08 10:07:07

Memasuki tahun 2019, sejalan dengan mendekatnya waktu “Brexit” Inggris pada tanggal 29 Maret, kontroversi yang mengundang perhatian di dalam negeri Inggris tidak lagi difokuskan pada langkah kebijakan sesudah Brexit, tetapi adalah “Brexit keras” atau “Brexit lunak”. Perbedaan lunak dan keras terletak pada soal apakah Inggris dan Uni Eropa (UE) dapat mencapai persetujuan, bahwa Inggris tetap berada dalam pasar bersama UE setelah Brexit. Kalau tetap berada dalam pasar bersama, maka Inggris harus membayar mahal.

Pada saat Inggris mengadakan referendum Brexit pada Juni tahun 2016, senjata yang dipegang oleh golongan pro UE ialah, kalau kehilangan pasar bersama UE, maka ekonomi Inggris akan menghadapi pukulan yang mematikan. Sementara golongan pro Brexit berpendapat, dibandingkan dengan UE, Inggris memiliki sejumlah industri yang unggul, kalau melepaskan beban besar UE, ekonomi Inggris akan menjadi lebih bebas, apalagi kebijakan UE yang menganjurkan personel dan dana yang beredar secara bebas merupakan ancaman besar bagi keamanan Inggris. Ditinjau dari susunan personel, golongan pro Brexit kebanyakan terdiri dari penduduk yang mengusahakan industri tradisional, sedangkan golongan pro UE kebanyakan adalah penduduk kota besar yang mengusahakan industri jasa, sementara penduduk di Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara pada pokoknya adalah golongan pro UE karena bertolak dari pertimbangan kepentingan pribadi. Proporsi penduduk antara kedua golongan hampir sama, akhirnya, golongan pro Brexit menang tipis.

Dibandingkan dengan sikap pemilih, sikap partai politik Inggris mengalami perubahan nyata sebelum dan sesudah referendum, terutama karena politikus dari Partai Konservatif dan Partai Buruh bertolak dari politik pemilihan, dalam batas tertentu bersedia mengambil kebijakan lunak. Sebelumnya, Perdana Menteri Theresa May dianggap sebagai perempuan keras dari golongan pro Brexit, setelah naik panggung, dengan bertolak dari kepentingan politik sendiri, dia khawatir bahwa dampak dalam waktu singkat akibat Brexit akan mempengaruhi jiwa politik pribadi, maka sikapnya menjadi moderat dan aktif mendorong “Brexit lunak”, sedangkan pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn tampaknya sudah lupa pendiriannya yang pro UE, aktif menganjurkan “Brexit lunak”.

Analis menunjukkan, kalau Inggris memilih “Brexit lunak”, walau ekonomi akan terdampak dalam waktu tertentu, namun seperti apa yang disebut Theresa May dalam pidato tahun baru, bahwa Inggris akan membina kembali kesepahaman dan melepas pandang ke seluruh dunia, maka Inggris berkesempatan untuk mendorong ekonomi ke tahap yang baru di atas dasar sekarang. Selain itu, separo ekspor Inggris kini tergantung pada pasar UE dengan membayar mahal. Apabila melepaskan “beban” UE, mengembangkan keunggulan industri sendiri, menetapkan kembali statusnya dalam seluruh pasar internasional, maka Inggris mempunyai kemampuan yang cukup.

Memang benar, kalau Inggris tidak bersedia menerima dampak dari “Brexit keras”, mencoba memelihara statusnya di dalam pasar bersama UE, maka Inggris dapat menahan diri dengan menerima syarat yang diajukan oleh UE.


Foto Terpopuler

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok