Apa Ruginya bagi AS Yang Surplus Kepentingan?

2018-09-26 13:02:16

Dalam pergesekan ekonomi dan dagang Tiongkok-AS yang terus meningkat dalam waktu setengah tahun ini, salahsatu keluhan pihak AS ialah terdapatnya neraca besar dalam perdagangan AS terhadap Tiogkok. Ini juga salahsatu sebab AS mengenakan tarif paksaan terhadap mitra dagang utamanya antara lain Kanada, Meksiko, Uni Eropa dan Jepang. Maka, apakah ruginya bagi AS dalam perdagangan dengan Tiongkok? Bagaimana gerangan kenyataan?

Perunding Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Tiongkok yang juga Wakil Menteri Perdagangan Fu Zhiying hari Selasa (25/9) di Beijing menyatakan, neraca perdagangan hanya perbedaan volume perdagangan bukan bedanya untung-rugi. AS tidak rugi dalam perdagangan bilateral Tiongkok-AS dan ini sangat jelas bagi perusahaan dan konsumen. Ia menunjukkan, bahwa dalam kerja sama ekonomi dan dagang Tiongkok-AS, perusahaan AS memperoleh laba yang jauh lebih besar daripada perusahaan Tiongkok. Surplus perdagangan berada di pihak Tiongkok,l tapi surplus kepentingan berada di pihak AS.

Surplus kepentingan berada di pihak AS itu merupakan keadaan nyata dalam hubungan bilateral Tiongkok-AS. Melalui perkembangan selama sekitar 40 tahun, ekonomi kedua negara Tiongkok dan AS berpadu secara mendalam dan saling bergantung. Volume perdagangan bilateral Tiongkok-AS telah mencapai 700 miliar dolar Amerika dan pendapatan pemasaran perusahaan modal AS di Tiongkok juga mencapai 700 miliar dolar Amerika pertahun dengan laba yang melampaui 50 miliar dolar Amerika.

Umum telah mencatat, tidak sama posisi Tiongkok dan AS dalam rantai industri dan rantai nilai global. AS berada di bagian hulu, sedangkan Tiuongkok berada di bagian tengah dan hilir. Juga harus diperhatian, perusahaan Tiongkok lebih banyak memperoleh ongkos pengolahan, sedangkan AS memperoleh kepentingan besar dalam rantai perancangan produk, pensuplaian onderdil dan pemasaran.

Dilihat dari rantai konsumsi, produk Tiongkok yang bermutu tapi murah dalam jumlah besar memasuki puluhan ribu keluarga AS sehingga telah menambah pilihan konsumen AS, menurunkan biaya hidup dan menaikkan daya beli riil kelompok pendapatan menengah dan rendah rakyat AS.

Tiongkok sebaga sebuah pasar raksasa tapi bertumbuh pesat telah menyediakan banyak kesempatan bisnis kepada perusahaan AS.

Dilihat secara fundamental, hakekat perdagangan bebas ialah satu mau beli dan satu lagi rela jual. Pihak AS membeli lebih banyak produk Tiongkok dan itu sewajarnya mendatangkan lebih banyak neraca perdagangan bukan karena jual-beli paksaan, melainkan hasil banyak faktor antara lain struktur ekonomi kedua negara dan distribusi industri internasional.

Daya saing perdagangan berasal dari daya saing industri dan industri yang kompetitif pasti lebih banyak ekspornya. AS selalu memelihara surplus yang besar dalam industri unggulannya antara lain otomotif, pesawat terbang, produk pertanian dan industri jasa.

Padahal, ketidak-seimbangan perdagangan Tiongkok-AS juga berhubungan dengan pengontrolan AS terhadap ekspor terhadap Tiongkok. Menurut analisa lembaga terkait AS, kalua diperlonggar pembatasan ekspor produk iptek tinggi sipil, neraca perdagangan AS terhadap Tiongkok dapat dikurangi sekitar 35 persen.

Kenyataan membuktikan, keuntungan dalam hubungan ekonomi dan dagang Tiongkok-AS hampir seimbang, dan keuntungan bersih AS lebih banyak. Adalah tak meyakinkan bagi AS yang mengalami surplus keuntungan dalam perdagangan Tiongkok-AS melontarkan argumentasi tentang kerungian AS.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok