Pemerasan Trump Sedang Melemah

2018-08-03 10:25:46

Belakangan ini, Wakil Perdagangan AS  Robert Lighthizer mengumumkan, atas instruksi Presiden Trump, AS berencana untuk menaikkan tingkat bea cukai terhadap komoditas Tiongkok senilai US $ 200 miliar, dari 10% hingga 25% untuk mendesak Tiongkok melakukan perubahan.

Gedung Putih berpendapat, setelah diumumkannya berita ini, pasti akan menimbulkan sensasi opini umum. Akan tetapi, kali ini mereka akan kecewa. Pada tanggal 1 Agustus lalu, media utama AS hanya melaporkan sebagian dari kabar ini saja. Nampaknya, kabar serupa yang berulang kali diberitakan membuat komunitas internasional termasuk warga AS telah bosan.

Selama empat bulan lebih kontes perdagangan antara Tiongkok dan AS, sikap AS menyebabkan dirinya semakin kehilangan kepercayaan di dunia, dan pemerasan Trump pun terus melemah. Dari US$ 50 miliar hingga US$ 200 miliar, Trump terus meningkatkan sanksi bea cukai untuk merebut suara, namun sepertinya hal itui tidak akan berguna. Trump mengancam penambahan bea cukai terhadap semua komoditas Tiongkok yang diekspor ke AS. Akan tetapi, perbuatan AS ini keterlaluan, komunitas internasional tidak hanya mengacuhkannya, bahkan merasa jengkel dan benci. Ternyata taktik transaksi yang disebut Trump adalah taktik pemerasan. Sepertinya, melakukan pekerjaan masing-masing dengan baik barulah sebuah tindakan yang tepat.

Di dunia ini, AS mempunyai keunggulan mutlak di bidang politik, ekonomi, militer dan iptek. Mengapa negara adikuasa ini terus menggunakan taktik pemerasan terhadap mitra dan negara lainnya? Secara objektif, hal ini mempunyai hubungan erat dengan suasana politik Gedung Putih dewasa ini. Pertama, Trump pernah menjadi pedagang yang sukses, sehingga dia membawa gagasan pengelolaan perusahaannya ke Gedung Putih, dan menggunakan taktik tarnsaksi yang selalu sukses di bidang bisnis tersebut untuk mengelola negara, sedangkan taktik transaksi sebenarnya adalah sebuah taktik gelap. Karena, pengelolaan negara bukanlah bisnis. Kedua, selama satu tahun ini, kelompok garis keras yang dikepalai Wakil Perdagangan Lighthizer dominan di Gedung Putih. Menurut laporan, usulan untuk menambahkan bea cukai 25% terhadap komoditas ekspor Tiongkok senilai US$ 200 miliar dikemukakan oleh penasehat-penasehat garis keras AS. Mereka berpendapat, perlakuan menyakitkan terhadap Beijing adalah cara terbaik untuk memaksa Tiongkok kembali ke meja perundingan.

Dilihat dari keadaan sekarang, sejak diluncurkannya perang dagang pada tanggal 6 Juli lalu, pemerintah Trump tidak mencapai hasil yang nyata. Pemerintah Trump mendapat tekanan dari berbagai pihak di dalam negeri karena menimbulkan perang dagang secara sepihak dan merugikan kepentingan rakyat AS. Tapi, pemerintah Trump tidak memperoleh kebijakan yang selayaknya, sehingga mereka terus meningkatkan cara pemerasan dengan terus menambahkan bea cukai.

Namun Tiongkok tidak akan takut. Menurut budaya Tiongkok, Tiongkok menghargai prinsip “Anda menghormati saya, maka saya akan lebih menghormati Anda”. Jika AS terus merugikan kepentingan negara Tiongkok dan kepentingan rakyat Tiongkok, maka Tiongkok akan melakukan pembalasan yang diperlukan.

Sebenarnya, Tiongkok dan komunitas internasional telah jelas, semakin AS mengeluarkan suara yang keras, maka itu berarti AS semakin cemas. Kini, komunitas internasional ingin tahu, jika sejauh ini semua muslihat pemerasan AS belum berfungsi, maka pertunjukan apa lagi yang akan dilakukan AS selanjutnya.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok