Trump Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

2017-12-07 11:49:22

Meskipun ditentang oleh negara-negara Timur Tengah dan negara sekutu Uni Eropa, Presiden AS Donald Trump hari Rabu (6/12) tetap mengumumkan diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dengan demikian, Trump menunaikan komitmennya dalam kampanye pemilihan dan juga merusak kesepakatan komunitas internasional terkait status Yerusalem, keputusan itu dipercaya akan mendatangkan kekacauan dan faktor ketidakpastian.

Pada Rabu sore di Gedung Putih, Trump telah menyampaikan pidato terkait status Yerusalem. Dia mengatakan keputusan ini dilakukan berdasarkan kenyataan. Namun ia juga mengatakan bahwa AS tetap mendukung konsep dua negara.

Selain itu, Trump meminta Kementerian Luar Negeri AS memulai proses pemindahaan kedutaan besar AS di Israel dari Telaviv ke Yerusalem. Namun pejabat terkait AS mengungkapkan, Trump akan menandatangani satu keputusan di mana pemindahan itu akan ditunda lagi karena alasan "keamanan dan kepentingan negara". Keputusan serupa telah dilaksanakan sejak pemerintahan presiden Bill Clinton, maka pemindahan kedutaan besar AS tak mungkin segera dilakukan.

Menteri Luar Negeri AS Tillerson kemarin menekankan, pendirian Trump terkait status Yerusalem harus dipertimbangkan secara serius, dan jangan buru-buru memberikan tanggapan.

Kementerian Luar Negeri AS telah meminta lembaga-lembaga diplomatiknya di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan pada aksi protes terhadap AS. Menurut sumber dari media-media AS, keputusan Trump itu telah mengakibatkan perpecahan di internal pemerintah AS.

Di satu pihak, meskipun dua hari yang lalu Trump telah mengumumkan keputusannya kepada Israel, Palestina, Yordania, Mesir dan negara-negara Arab, namun keputusan itu ditentang oleh semua negara Arab dan negara sekutunya di Eropa, terkecuali Israel. Palestina kemarin memulai aksi "Tiga hari kemarahan" untuk memprotes langkah AS. Raja Arab Saudi menyebut keputusan AS itu adalah "satu langkah yang berbahaya". Turki menyatakan itu adalah "kekeliruan serius". Menteri Luar Negeri Inggris menyatakan, masalah status Yerusalem merupakan bagian dari solusi akhir masalah Palestina-Israel, saat ini Inggris tidak berminat memindahkan kedutaan besar.

Akan tetapi tidak sedikit anggota Kongres AS menyatakan dukungan kepada Trump, namun juga ada cendikiawan menyatakan kekhawatiran atas keputusan Trump tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang menyatakan, masalah Yerusalem sangat rumit dan sensitif, berbagai pihak harus berhati-hati perihal status Yerusalem. Tiongkok mendukung mendirikan satu negara Palestina yang berdaulat penuh dan independen, di atas dasar garis perbatasan 1967 dengan Yerusalem timur sebagai ibu kota.




Foto Terpopuler

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok