Cendekiawan AS Sebut AS dan Tiongkok Butuh Kerja Sama Yang Stabil

2017-04-07 11:51:04 CRI

Presiden Tiongkok Xi Jinping tiba di Florida, AS pada hari Kamis (6/4) dengan menumpangi pesawat terbang khusus dan akan mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Resor Mar-a-Lago. Beberapa cendekiawan AS dalam wawancaranya dengan CRI menyatakan, pertemuan antara pemimpin kedua negara kali ini mempunyai arti signifikan. Mereka mengusulkan kedua negara berusaha menemukan solusi untuk meningkatkan kerja sama secara stabil.

Pertemuan antara Xi Jinping dan Trump merupakan yang pertama kali sejak Trump dilantik sebagai Presiden AS. Pertemuan tersebut mempunyai arti signifikan untuk menetapkan arah perkembangan hubungan bilateral Tiongkok-AS, mendorong perkembangan hubungan kedua negara secara sehat dan stabil dengan bertolak dari titik awal yang baru, dan mendorong perdamaian, stabilitas dan kemakmuran kawasan Asia Pasifik, bahkan seluruh dunia.

Kent Calder dari Pusat Penelitian Asia Timur di bawah Johns Hopkins University berpendapat, hubungan AS-Tiongkok mempunyai pengaruh besar bagi konfigurasi politik dan ekonomi global. Oleh karena itu, pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump pada kali ini sangat menarik perhatian dunia.

“Tiongkok dan AS perlu mencari solusi kerja sama yang stabil. Kita membutuhkan Tiongkok dan AS menjadi stabilisator ekonomi dunia. Dilihat secara umum, saya optimis terhadap pertemuan antara kedua kepala negara walaupun masyarakat menyatakan kekhawatiran atas hubungan perdagangan Tiongkok dan AS. Pertemuan antara kepala negara Tiongkok dan AS kali ini digelar tepat pada waktunya, karena ketegangan hubungan Tiongkok dan AS akan mendatangkan dampak bagi hubungan moneter dan perdagangan dunia.” Demikian dikatakan Kent Calder.

Hubungan ekonomi dan perdagangan selalu dipandang sebagai “batu jangkar” dan “ motor penggerak” dalam hubungan Tiongkok dan AS. Selama 38 tahun sejak Tiongkok dan AS menjalin hubungan diplomatik pada 1979, hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara telah mengalami perkembangan pesat. Statistik menunjukkan, pada tahun 2016, volume perdagangan barang antara Tiongkok dan AS adalah sebesar US$ 519,6 miliar, atau meningkat 200 kali lipat lebih dibanding volume perdagangan kedua negara pada tahun 1979. Tiongkok kini merupakan mitra perdagangan terbesar dan pasar ekspor terbesar ketiga bagi AS. Sementara itu, AS merupakan mitra perdagangan terbesar kedua dan pasar ekspor terbesar bagi Tiongkok.

Profesor Dwight Perkins dari Harvard University menyatakan, kebutuhan realistis menuntut AS dan Tiongkok harus melakukan kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan, dan ini sesuai dengan kepentingan mendasar kedua negara. Perkins berpendapat, satu-satunya pilihan bagi Tiongkok dan AS adalah kerja sama, dan bukan konfrontasi. “Perang perdagangan tidak akan memberikan manfaat kepada siapapun, termasuk AS. Alasannya adalah, salah satu tugas penting Presiden Trump ialah meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi AS dan menyediakan lebih banyak lapangan kerja. Untuk mewujudkan target tersebut, maka perang perdagangan akan menjadi alternatif terburuk karena bertentangan dengan target-target pembangunan yang ditetapkan AS.”

Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok