Pemerintah AS Diusulkan Tidak Ubah Kebijakan Pokok terhadap Tiongkok

2017-02-09 12:15:06

XINHUA: Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Bagaimana perkembangan hubungannya setelah Donald Trump memegang kekuasaan kembali menjadi sorotan seluruh dunia. Tidak sedikit pengamat khawatir bahwa hubungan ekonomi dan dagang kedua negara akan mengalami fluktuasi.

Pada hari Selasa lalu (7/2), sebuah tim khusus yang terdiri dari akademisi terkemuka dari America Asia Society dan University of California, San Diego (UCSD) merilis sebuah laporan yang berjudul: "Kebijakan AS terhadap Tiongkok: Usulan kepada Pemerintah Baru". Laporan usulan itu memperingatkan pemerintah baru AS agar tidak meninggalkan kebijakan pokok yaitu "kontak" dengan Tiongkok yang sudah dilaksanakan selama puluhan tahun oleh pemerintah baik yang dikuasai oleh Partai Demokrat maupun Partai Republik. Tim ad hoc yang merilis laporan tersebut terdiri atas 20 ahli masalah Tiongkok.

Mengenai hubungan Tiongkok-AS yang sekarang sudah memasuki "persimpangan", tim ahli masalah Tiongkok tersebut mengusulkan Donald Trump agar menyadari bahwa kebijakan "kontak" dengan Tiongkok sesuai dengan kepentingan AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, kalangan akademis AS melakukan semakin banyak diskusi atau introspeksi atas kebijakan "kontak" dengan Tiongkok yang dijalankan pemerintah AS. Ada yang berpendapat bahwa AS harus mengubah kebijakan "kontak" menjadi kebijakan "kontak namun membendung", atau langsung mengalihkan kebijakan menjadi kebijakan "membendung". Setelah Donald Trump naik panggung, tidak sedikit pengamat khawatir pemerintah AS akan meninggalkan kebijakan pokok tersebut.

Menghadapi kekhawatiran itu, laporan tim ahli tersebut menekankan, satu negara yang sedang bangkit tidak tentu akan menjadi musuh negara superpower. Kebijakan "kontak" harus dipertahankan sebagai kebijakan pokok terhadap Tiongkok karena ini sesuai dengan kepentingan AS dan menguntungkan perdamaian dan stabilitas kawasan Asia Pasifik.

Akan tetapi, laporan tersebut selain menekankan pentingnya kerja sama AS dan Tiongkok, juga mengusulkan pemerintah baru AS agar mengambil sikap yang lebih keras dalam sejumlah masalah tertentu, khususnya dalam masalah reciprocity setimpal mengenai kebijakan perdagangan dan investasi bilateral.

Dari usulan tersebut jelaslah kaum akademisi yang menjadi ahli masalah Tiongkok tetap menginginkan pemerintah baru AS melanjutkan kebijakan "bersaing plus bekerja sama" ketika menangani masalah ekonomi dan dagang dengan Tiongkok. Laporan menyatakan, dibanding masa lalu, hubungan AS-Tiongkok saat ini bersifat lebih komplementer, namun perselisihannya juga semakin bertambah. Akan tetapi, laporan berpendapat bahwa kedua negara seharusnya tidak merusak situasi "kerja sama" dalam penanganan masalah "persaingan" atau masalah yang muncul karena kedua negara saling mengusahakan kepentingan diri sendiri.

Laporan menekankan, Tiongkok semakin berkembang menjadi negara besar dalam ekonomi global. Saat mengambil kebijakan terhadap Tiongkok, pemerintah baru AS harus mempertimbangkan kenyataan bahwa ekonomi kedua negara berhubungan erat, baik AS maupun Tiongkok tidak akan memperoleh manfaat dari kesulitan ekonomi pihak lain.

Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok