Hubungan Jepang dan Korsel Tegang Lagi Soal "Wanita Penghibur"

2017-01-10 10:45:45 CRI
Duta Besar Jepang untuk Korea Selatan (Korsel), Yasumasa Nagamine dan Konsul Jenderal Jepang untuk Busan, Yasuhiro Morimato kemarin (9/1) pulang kembali ke negaranya untuk sementara. Karena tidak puas terhadap patung gadis "wanita penghibur" yang dipasang oleh organisasi warga sipil Korsel di depan Konsulat Jenderal Jepang untuk Busan, pemerintah Jepang sebelumnya mengumumkan akan mengambil serangkaian langkah balasan, termasuk untuk sementara memanggil kembali duta besar untuk Korsel, memutuskan perundingan mengenai persetujuan saling tukar mata uang.

Analis berpendapat, Jepang yang tidak dengan tulus mawas diri dan meminta maaf mengenai masalah sejarah merupakan penyebab pokok ketegangan lagi hubungan antara kedua negara mengenai "wanita penghibur". Peristiwa tersebut mengakibatkan kedinginan hubungan antara kedua negara, namun kedua negara tetap memelihara kerja sama di bidang pertahanan.

Pada tanggal 28 Desember tahun 2015, pemerintah Korsel dan Jepang secara "mendadak" menandatangani persetujuan mengenai "wanita penghibur", dinyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai "kesepahaman yang final dan tak terbalikkan" mengenai masalah "wanita penghibur". Seusai penandatanganan persetujuan, pihak Jepang mengucurkan dana sebesar 1 miliar yan Jepang kepada "Yayasan Rekonsiliasi dan Rehabilitasi" yang didominasi oleh pemerintah Korsel.

Pada tanggal 28 Desember tahun 2016, yaitu pada saat genap satu tahun penandatanganan persetujuan "wanita penghibur", ada pula organisasi warga sipil secara mendadak memasang patung gadis "wanita penghibur" di depan Konsulat Jenderal Jepang untuk Busan. Patung gadis tersebut adalah patung kedua yang dipasang di depan Konsulat Jenderal Jepang, yang pertama dipasang di depan Kedutaan Besar Jepang di Seoul.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe hari Minggu menuntut Korsel untuk memindahkan patung "wanita penghibur" di depan Konsulat Jenderal Jepang, sementara mendesak pula pihak Korsel untuk memindahkan patung "wanita penghibur" di depan Kedutaan Besar Jepang. Abe menyatakan, pemerintah Korsel seharusnya menjalankan kewajibannya walau pemerintah berganti, karena itu adalah masalah kredibilitas negara.

Analis menunjukkan, dalam persetujuan "wanita penghibur" antara Korsel dan Jepang, pemerintah Korsel berjanji secara layak menangani patung gadis "wanita penghibur" yang dipasang di depan Kedutaan Besar Jepang. Kini, patung yang dipasang sebelumnya sudah dipindah, namun patung yang baru dipasang lagi, maka Abe marah karena hal tersebut.

Ditinjau dari pihak Korsel, pemerintah Park Geun-hye menandatangani persetujuan dengan Jepang di bawah latar belakang Korsel secara terburu-buru mengusahakan hasil diplomatik, sehingga memicu tanggapan keras di dalam negeri Korsel.

Analis menunjukkan, soal dipanggilnya kembali duta besar Jepang sekali lagi menunjukkan bahwa Jepang tidak mempunyai ketulusan sama sekali dalam menangani masalah "wanita penghibur".

Ditinjau dari jangka panjang, untuk memelihara kerja sama pertahanan antara Jepang, AS dan Korsel, Jepang tidak berharap hubungan dengan Korsel mengalami kerusakan. Oleh karena itu, kebijakan umum Jepang untuk membujuk Korsel tidak akan mengalami perubahan.

Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok