BREXIT Dalam Pandangan Masyarakat Tionghoa di Inggris

2017-01-09 14:46:46

Jika berbicara tentang Black Swan Event global tahun 2016, yang berada di urutan pertama pasti adalah keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) yang ditentukan oleh warga negara Inggris dalam referendum bulan Juni tahun lalu. Menghadapi hasil Brexit itu, ada yang merasa kecewa, ada yang menyambut baik, ada pula yang mengharapkan referendum diadakan sekali lagi, agar dapat merubah pilihannya. Selama hampir setengah tahun ini, dampak apa saja yang telah didatangkan referendum Brexit kepada masyarakat Tionghoa di Inggris?

“Jumlah suara yang mendukung keanggotaan Inggris di UE tercatat 16.141.241, sedangkan yang mendukung Inggris keluar dari keanggotaan UE adalah 17.410.742 suara.”

Pada tanggal 24 Juni lalu, Ketua Pelaksana Referendum, Jenny Watson mengumumkan hasil pemungutan suara referendum tentang Brexit di Balai Kota Manchester, yang diadakan sehari sebelumnya.

Seperti kartu Domino yang dijatuhkan, hasil referendum dengan cepat menimbulkan reaksi berantai. Perdana Menteri Inggris, David Cameron meletakkan jabatannya, partai-partai oposisi termasuk Partai Buruh Inggris dan Partai Independen Inggris (UKIP) menghadapi krisis sehingga terpaksa mengganti pimpinannya, kurs poundsterling terhadap dolar AS anjlok sebesar 10 persen, sejumlah lembaga moneter internasional berskala besar hendak memindah markas besarnya ke luar Inggris. Sementara itu, Perdana Menteri baru Inggris, Theresa May beberapa kali menekankan bahwa Inggris akan menjadi pemimpin perdagangan bebas global setelah keluar dari UE, dan akan secara resmi mengadakan perundingan Brexit dengan pihak UE. Selain guncangan dunia politik dan fluktuasi pasar, dampak apa lagi yang didatangkan hasil referendum itu kepada kehidupan rakyat Inggris, khususnya masyarakat Tionghoa selama beberapa bulan ini?

Pemilik sebuah agensi wisata di London, Mao mengemukakan pandangannya tentang Brexit.

“Saya sendiri membuka sebuah agensi wisata. Jika Inggris keluar dari UE, maka akan berdampak pada rombongan turis yang ingin berkunjung ke daratan Eropa. Selain itu, Poundsterling juga mulai terdevaluasi. Pendapatan kami dulu masih lumayan, tapi akan berbeda kalau ditukar menjadi RMB atau Euro, pengaruhnya agak besar. Apalagi sekarang harga komoditas naik, jika berbelanja di supermarket kamu akan melihat bahwa barang seharga 1 Pound beberapa hari sebelumnya sekarang sudah dijual 3 Pound. Saya merasa, yang paling dirugikan adalah rakyat biasa.”

Berbeda dengan Mao, Manajer Bagian Onkologi di sebuah pusat medis di London, Huang, dengan tegas memberikan suaranya agar Inggris keluar dari UE. Masyarakat Tionghoa jarang ada yang mengambil pilihan ini. Ia mengatakan sejumlah besar tenaga medis menganggap kalau Inggris tidak membatasi imigran dari UE, maka sistem NHS yaitu sistem “kedokteran gratis” yang sudah ada sekarang ini akan macet.

Dalam referendum Brexit, 52 persen warga Inggris mendukung Inggris keluar dari UE, sedangkan 48 persen lainnya mendukung Inggris tetap menjadi anggota UE. Akan tetapi, sampai bulan November lalu, menurut data statistik lembaga riset independen BMG, 51 persen responden mengharapkan Inggris tidak keluar dari UE, sedangkan 49 persen tetap mengharapkan Inggris keluar dari UE. Meskipun persentasenya mengalami perubahan, tapi analis berpendapat bahwa makna sesungguhnya survei ini adalah, terlihat warga Inggris tetap memiliki perbedaan pendirian mengenai masalah Brexit.

Mengenai hal itu, Wakil Ketua Tetap Perhimpunan Perdagangan Tionghoa Inggris, Qing Long dalam wawancara menyatakan perbedaan itu justru dikarenakan warga Inggris cenderung mengambil keputusan bertolak dari pengalaman dan kepentingan diri sendiri.

Mengenai perundingan Brexit yang sedang dipersiapkan itu, yang paling diperhatikan oleh kalangan luar adalah apakah Inggris akan tetap berada di pasar tunggal UE. Pemerintah Inggris belum pernah menyatakan sikap tegas mengenai hal itu. Perdana Menteri Inggris Teresa May selalu menekankan, setelah keluar dari keanggotaan UE, Inggris dapat menemukan lebih banyak peluang dari perdagangan bebas global. Mengenai hal itu, Representatif Ratu Inggris untuk Redbridge yang juga mantan walikota keturunan Tionghoa yang pertama di Inggris, Thomas Chan berpendapat itu bukanlah hal yang mudah.

Kini sudah hampir setengah tahun sejak diadakannya referendum Brexit, tapi masih belum diketahui pasti kapan Inggris keluar dari UE, bagaimana caranya, dan apakah benar-benar mau keluar dari UE. Akan tetapi, itu sebenarnya tidak begitu penting bagi kebanyakan warga Inggris, yang penting adalah kehidupan mereka tidak menjadi lebih buruk akibat Brexit. Sedangkan masyarakat Tionghoa yang hidup di Inggris, melihat sebuah harapan yang berbeda. Thomas Chan mengatakan,

“Kami harus memanfaatkan keunggulan diri sebagai masyarakat Tionghoa. Kenapa? Karena pasar Tiongkok memang besar, kami dapat memainkan peranan sebagai jembatan bagi perdagangan antara Tiongkok dan Inggris.”


Foto Terpopuler

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok