AS Peringati 15 Tahun Pristiwa 11 September

2016-09-12 12:50:59 CRI

AS Peringati 15 Tahun Pristiwa 11 September

Pada tanggal 11 September waktu setempat, kegiatan peringatan 15 tahun serangan teror 11 September diadakan bersama di Kota New York, Ibukota Washington DC dan Shanksville di Negara Bagian Pennsylvania, Amerika Serikat (AS). Menghadapi situasi pemberantasan terorisme yang semakin serius khususnya masyarakat AS yang semakin memecah belah, Presiden AS, Barack Obama menekankan, keanekaragaman dan multi-etnis bukan kelemahan melainkan "sumber kekuatan" AS, AS tidak akan menyerah kepada ketakutan.

Sejak terjadinya serangan teror pada 11 September 2001, berbagai tempat di AS setiap tahun mengadakan sejumlah kegiatan untuk memperingati korban tewas.

Kemarin pagi (11/9), di peninggalan Lapangan World Trade Center, wakil survivor dan sanak keluarga korban tewas sekali lagi membaca hampir 3.000 nama korban tewas dan menyampaikan rasa rindu yang tak habis-habisnya.

Di tempat peninggalan Peristiwa 11 September di Pentagon di dekat Washington, Ibukota AS, Presiden Barack Obama di depan kegiatan pringatan menyatakan bahwa ancaman terorisme yang dihadapi AS telah berubah. Dikatakannya, "Kaum teroris mulai mencoba menyerangi target kecil ketika menghadapi pertahanan kita yang lebih kuat, akan tetapi, serangan serupanya tetap fatal; Mereka menyebarkan pula ideologi yang memusuhi kita, mendorong massa mengikuti aksi kekerasan, sehingga kami berkali-kali berduka cita kepada korban tewas yang tidak berdosa di Boston, San Bernardino dan Orlando."

Dalam pidato televisi Gedung Putih sehari sebelumnya, Presiden Barack Obama menunjukkan, sistem jaminan keamanan negara AS cukup kuat untuk mencegah serangan teror seperti Peristiwa 11 September, akan tetapi, serangan teror yang dilancarkan oleh seseorang sendirian seperti kasus bom Marathon Boston dan kasus penembakan San Bernardino itu juga kerap terjadi, dan ini sangat mematikan dan susah dicegah.

Barack Obama menekankan, meskipun situasi keamanan negara mengalami perubahan, tapi yang tak pernah berubah selama 15 tahun ini adalah keanekaragaman masyarakat AS, dan itu juga dasar negara AS.

Namun, dalam kampanye pemilihan presiden yang memanas belakangan ini, pandangan yang balas-membalas antara Partai Demokrat dan Partai Republik AS mengenai masalah keamanan negara dan pemberantasan terorisme memungkinkan masyarakat majemuk itu menuju pemecah-belahan.

Dewan Perwakilan yang dikuasai oleh Partai Republik AS hari Jumat lalu (9/9) tanpa menghiraukan keberatan Gedung Putih, meratifikasi sebuah rancangan undang-undang yang mendukung keluarga korban tewas dalam serangan teror 11 September itu menyerahkan gugatan terhadpa pemerintah Arab Saudi, karena 15 di dalam 19 teroris dalam Peristiwa 11 September memegang paspor Arab Saudi. Sedangkan Senat yang didominasi Partai Republik meratifikasi rancangan serupanya pada Mei tahun ini. Gedung Putih mengisyarakatkan bahwa Barack Obama akan melakukan hak veto untuk memungkiri rancangan undang-undang itu. Opini umum berpendapat, tindakan Partai Republik itu bertujuan untuk merepotkan Presiden Barack Obama dari Partai Demokrat.

Politikus memandang Peristiwa 11 September 2011 sebagai garis pemisah sejarah kontemporer yang masih tetap berada dalam politik bahkan masyarakat AS sekarang.

Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok