194 Orang Tewas dalam Kudeta Militer Turki yang Gagal

2016-07-17 15:19:09

Kepala Staf Umum Militer sementara Tukri  Umit Dundar kemarin (16/7) mengatakan, kudeta militer yang terjadi pada hari Jumat malam telah menyebabkan kematian sedikitnya 194 orang, termasuk 41 polisi, 49 warga sipil dan 104 pengikut kudeta. Sejumlah negara  dan organisasi dunia termasuk Rusia, Pakistan, Brunei, Somalia, Yordania, Uni Eropa dan NATO berturut-turut menaruh keprihatian serius pada kudeta militer Turki.

   Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, pihaknya akan membasmi pemimpin kudeta, demi  memelihara “kebersihan” tentara Turki.

    Ketua Majelis Umum PBB ke-70 Mogens Lykketoft dalam pernyataan kemarin dengan serius mengecam kudeta militer yang dilancarkan oleh sebagai anggota militer Turki.

    Dalam pernyataan bersama UniEropa, Ketua Komisi Uni Eropa Juean Claude Juncker,Ketua Dewan Pengurus Uni Eropa Donal Tusk dan Komisaris Senior Uni Eropa untuk Urusan Diplomatik dan Keamanan Frederica Mogherini menyatakan, Turki adalah mitra penting  Uni Eropa, Uni Eropa dengan sepenuhnya mendukung pemerintah yang dipilih  rakyat Turki. Uni Eropa menyerukan agar Turki selekasnya memulihkan tata konstitusi,  Uni Eropa akan terus mencermati situasi Turki bersama dengan semua anggota Uni Eropa.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg dalam pernyataannya mengimbau agar berbagai pihak Turki berupaya menahan diri dan berkepala dingin, hendaknya menghormati sistem demokrasi dan konstitusi, ditegaskannya bahwa Turki adalah salah satu anggota penting NATO.

Perdana Menteri Rusia Dmitriy Medvedev menyatakan, konflik militer di Turki mencerminkan terdapatnya pertentangan yang besar dan mendalam antara sosial dan militer Turki, sehingga mengakibatkan kudeta kali ini. Tata konstitusi harus dipulihkan di Turki, hak dan kebebasan yang diberikan hukum harus dihormati penuh.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steimeier dalam pernyataannya mengecam, pelaku kudeta “bermaksud mengubah sistem demokrasi Turki melalui tindakan kekerasan”

Namun muncul ketegangan antara  Turki dan AS, karena Turki menuding warga Turki Fethullah Gulen yang mengasingkan diri di AS sebagai pendalang kudeta di belakang layar.

Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok