Pakar: Mencegat Kekerasan Adalah Tugas Urgen Hong Kong

2019-09-19 12:00:08

Selama penyelenggaraan sidang ke-42 Dewan Pengurusan HAM PBB, Delegasi Tetap Tiongkok untuk Jeneva kemarin (18/9) mengadakan rapat yang bertema “Kenyataan dan Keadaan Sebenarnya Hong Kong”. Pakar di depan rapat telah memperkenalkan keadaan sebenarnya Hong Kong. Para pakar menyatakan, mencegat cepat kekerasan adalah tugas urgen bagi Hong Kong.

Direktur Pusat Penelitian Hong Kong dan Makau Universitas Tsinghua, Wang Zhenmin dalam pidatonya menunjukkan, setelah Hong Kong kembali ke pangkuan tanah air, hak dan kebebasan yang dimiliki orang Hong Kong serta tata hukum dan demokrasi meningkat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Masalah sekarang bukanlah orang Hong Kong tidak memiliki HAM dan kebebasan, bukanlah pemerintah menindas orang Hong Kong untuk menjalankan hak dan kebebasan, tetapi adalah hak dan kebebasan disalahpahamkan dan disalahgunakan. Serangan kekerasan yang terjadi di jalan-jalan Hong Kong sama sekali bukanlah menjalankan hak dan kebebasan, tetapi adalah kekerasan terang-terangan dengan alasan HAM, segelintir orang melanggar hak dan kebebasan pokok orang mayoritas. Tugas urgen dan masalah yang paling penting adalah mencegat cepat kekerasan.

Direktur Pusat Penelitian Undang-Undang Pokok Hong Kong dan Makau Universitas Shenzhen, Profesor Zou Pingxue menegaskan, tata hukum adalah nilai inti Hong Kong. Hak dan kebebasan apapun tak terpisah dari jaminan tata hukum, menyabot tata hukum dengan cara kekerasan pasti akan melanggar serius HAM dan kebebasan. Adalah sangat kontradiksi bahwa para perusuh menyatakan dirinya bertujuan untuk hari depan Hong Kong sambil merusak tata hukum.

Direktur Kantor Penelitian Hong Kong dan Makau Institut Masalah Internasional Shanghai, Zhang Jian dalam pidatonya menunjukkan, campur tangan kekuatan eksternal dan perbuatan pendalang telah memperhebat kerusuhan Hong Kong. Kekuatan eksternal yang dikepalai oleh AS secara maksimal mengintervensi urusan Hong Kong, mencoba menjadikan Hong Kong sebagai taruhan dalam persaingan negara besar dengan Tiongkok.

Zhang Jian mengatakan, sebelumnya di sebagian negara di Eropa Timur, Asia Tengah dan Afrika telah terjadi apa yang disebut “revolusi warna”.

Dalam peristiwa anti revisi peraturan Hong Kong, dari demonstrasi berubah menjadi menyerbu badan legislatif, menyerbu kantor penghubung pemerintah pusat, menyerbu polisi, menuntut kepala eksekutif daerah administrasi khusus untuk meletakkan jabatan, mencemarkan bendera kebangsaan, lambang negara dan melumpuhkan bandara, ditambah lagi dukungan dan intervensi dari kekuatan eksternal, ini justru adalah ciri revolusi warna. Di kebanyakan negara di mana terjadi revolusi warna telah terjadi pergantian kekuasaan, masyarakat terletak dalam keguncangan jangka panjang, kehidupan rakyat mengalami dampak serius. Namun, hasil perkembangan situasi Hong Kong berbeda dengan negara-negara yang mengalami revolusi warna, karena Hong Kong adalah daerah administrasi khusus Republik Rakyat Tiongkok, di bawah dukungan tegas pemerintah pusat, tak akan terjadi pergantian kekuasaan bagi pemerintah Daerah Administrasi Khusus Hong Kong.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok