Prof. Zhang Weiwei: “Revolusi Warna” di Hong Kong Tak Akan Sukses

2019-09-01 12:05:09

Pada tahun 2011, Profesor Zhang Weiwei dari Universitas Fudan, Tiongkok dan sarjana AS keturunan Jepang, Francis Fukuyama di kota Shanghai mengadakan “perdebatan abad” di bawah tema “model Tiongkok dan model Barat”. Francis Kukuyama pernah mengemukakan inferensi bahwa “sejarah akan diakhiri dengan sistem demokrasi Barat”, ia berpendapat bahwa Tiongkok juga akan memasuki “musim semi Arab”. Namun, Prof. Zhang Weiwei mengemukakan pandangan yang bertentangan dengan Fukuyama dan menyebutnya sebagai “berakhirnya teori berakhirnya sejarah”, “saya dengan jelas dan tegas memberitahukan kepadanya, di Tiongkok tak akan terjadi keadaan seperti itu. ”

Sudah dua bulan lebih terjadi perkumpulan ilegal serta peristiwa kekerasan dan penyerbuan di Hong Kong, umum semakin mengenal sifat “revolusi warna” dari aktivitas kekerasan di jalan serta AS sebagai pendalang di belakangnya. Belakangan ini, seratus lebih warga Hong Kong mengadakan demo di depan Konsulat Jenderal AS untuk Hong Kong, memekikkan semboyan “perusuh Hong Kong, made in AS”, memprotes intervensi kasar AS terhadap urusan dalam negeri Tiongkok. Mengenai hal itu, Prof. Zhang Weiwei mengatakan, “jauh pada tahun 2014 saat terjadinya “aktivitas penempatan jalan sentral”, wartawan BBC mewawancarai saya melalui telepon, pada saat itu saya mengatakan, waktu yang salah, tempat yang salah dan aktivitas yang salah, kegagalannya seratus persen. Dia tanya mengapa, saya jawab ringkas, karena kami sudah lama mengikuti jajak pendapat Hong Kong, yang yang paling diperhatikan warga dan yang paling diperhatikan mayoritas pemuda adalah masalah sejahtera dan masalah penempatan tenaga kerja serta masalah perumahan.”

Kekuatan Barat yang mendorong apa yang disebut “revolusi warna”, dengan sengaja mengalihkan kemarahan para pemuda ke arah pemerintah daerah khusus. Akan tetapi, aktivitas yang dilancarkan telah merugikan perekonomian Hong Kong, dari laporan yang kita saksikan sekarang ialah tingkat penghunian hotel di Hong Kong menurun 50%, sopir taksi mengalami kerugian lebih dari 50%, pemukulan tersebut lebih berat dari pada krisis moneter pada tahun 2008 dan mungkin akan berlanjut lama.

Penyebab utama di antaranya ialah intervensi langsung dari AS, latar belakangnya adalah perang dagang antara Tiongkok dan AS, sebelumnya Donald Trump mengira bahwa dia akan menang dalam perang dagang, sebenarnya dia sangat tolol. Pada kenyataannya segala sesuatu tidak lancar baginya, pembalasan kita malah lebih keras, pasar saham AS anjlok tajam, inilah yang justru ditakuti oleh Trump, anjloknya pasar saham akan membawa dampak bagi suara pemilihannya, yang dia pertimbangkan adalah pemilu tahun 2020. Seorang pejabat AS pernah mengatakan, demo yang timbul di Hong Kong bermanfaat bagi AS, karena ini menjadi sebuah kartu lagi bagi AS dalam perundingan perdagangan dengan Tiongkok untuk menekan Tiongkok.

Zhang Weiwei mengatakan, “Anda dapat menyaksikan sejumlah fakta pokok, yang pertama adalah jumlah staf konsulat jenderal AS dan Inggris untuk Hong Kong, lebih banyak dari pada kedutaan besarnya untuk Beijing dan juga lebih banyak dari pada konsulat jenderalnya untuk Shanghai. Selain itu, yang bekerja di berbagai lembaga lainnya, sepuluh lipat jumlahnya dari pada jumla staf di konsulat jenderal dan kedutaan besar. Memang sebagian adalah soal peninggalan sejarah, karena dijajah oleh Inggris selama 150 tahun, banyak orang Inggris sudah lama hidup dan bekerja di sana, berbagai lembaganya jauh sudah didirikan, namun kemudian diinfiltrasi oleh kekuatan permusuhan. Selanjutnya Anda dapat dengan jelas menyaksikan bahwa dalam seluruh proses aktivitas, ‘gerombolan 4 perusuh Hong Kong', Chan Fang On Sang, Lai Chee Ying terus berkontak erat dengan staf konsulat jenderal AS dan Inggris. Sikap pihak AS dan Inggris sudah jelas, apa yang disebut ‘mendukung Hong Kong'.”

Prof. Zhang Weiwei mengatakan, “Presiden AS Donald Trump pernah mengadakan bahwa apa yang terjadi di Hong Kong adalah urusan dalam negeri Tiongkok, tak berkaitan dengan AS. Karena yang diperhatikannya adalah pemilu pada tahun 2020, dia takut pasar saham Hong Kong membawa dampak bagi pasar saham AS, anjloknya pasar saham tidak menguntungkan suara pemilunya. ”


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok