Tiongkok Kritik Tuduhan AS sebagai Unilateralisme Tipikal

2019-08-07 09:31:41

Departemen Keuangan AS Selasa kemarin (6/8) memasukkan Tiongkok dalam daftar “negara manipulator kurs”. Tindakan AS tersebut merupakan tindakan unilateralisme dan proteksionisme, dan telah secara serius merusak peraturan internasional, dan akan menimbulkan dampak serius terhadap ekonomi dan moneter global.

Pada bulan Mei lalu, Departemen AS dalam sebuah laporannya mengatakan, menurut tiga indikatornya untuk mengidentifikasi suatu negara sebagai manipulator kurs, Tiongkok hanya terpaku satu kriterianya, yakni surplus perdagangan Tiongkok terhadap AS dalam satu tahun melebihi US$ 20 miliar, dan tidak pernah memperoleh keunggulan perdagangan yang tidak adil melalui manipulasi kurs. Akan tetapi, hanya berselang dua bulan saja, Departemen AS melakukan tindakan yang ambivalen yang simpang siur dengan kesimpulan sebelumnya. Tingkah laku AS tersebut adalah pragmatisme tipikal.

Sejak memasuki bulan Agustus, nilai tukar RMB mengalami devaluasi pada tingkat tertentu di tengah maraknya unilateralisme dan proteksionisme perdagangan serta kekhawatiran atas pengenaan tarif tambahan oleh AS terhadap barang asal Tiongkok. Devaluasi tersebut merupakan manifestasi fluktuasi pasar kurs internasional serta perubahan antara permintaan dan penawaran. Tiongkok memberlakukan sistem nilai tukar bebas (floating) namun terkendali yang diatur dengan mempertimbangkan paket mata uang berdasarkan permintaan dan penawaran pasar, yang memainkan peranan definitif dalam penentuan nilai tukar RMB. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok selalu mematuhi komitmennya mengenai nilai tukar kepada KTT G20, dan tak pernah melakukan devaluasi kompetitif dan juga belum menggunakannya sebagai instrumen untuk menghadapi sengketa perdagangan.

AS bersikeras mencap Tiongkok sebagai negara manipulator kurs terutama untuk terus memberikan tekanan maksimum kepada Tiongkok dan membendung pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Akan tetapi perbuatannya itu tidak hanya akan merugikan orang lain, tapi juga dirinya sendiri, karena tidak hanya akan menimbulkan guncangan pasar moneter, tapi juga akan mengganggu pemulihan ekonomi global. Ketidakseimbangan perdagangan Tiongkok-AS diakibatkan banyak unsur, antara lain, kurangnya jumlah deposito dan tabungan di dalam negeri AS, pembatasan oleh AS terhadap ekspor produk teknologi tinggi kepada Tiongkok, serta status dolar AS sebagai mata uang cadangan internasional. Tiongkok menganjurkan AS secara sebaik-baiknya menyelesaikan masalah struktural yang terjadi pada dirinya sendiri, dan bukan secara sembarangan dan tanpa alasan menuduh negara lain sebagai “manipulator kurs” demi memperoleh keunggulan perdagangan.

Pada hal Bank Sentral Tiongkok selalu berusaha menjaga fluktuasi kurs RMB pada level yang rasional dan seimbang. Menurut data Bank for International Settlement (BIS), dari awal 2005 hingga Juni 2019, nilai tukar efektif nominal RMB mengalami apresiasi sebesar 38 persen, dan kurs efektifnya naik 47 persen untuk menjadi mata uang yang paling kuat dari sekian banyak mata uang yang beredar di antara negara-negara G20. Dengan demikian, RMB pun menjadi salah satu mata uang yang mengalami revaluasi terbesar di seluruh dunia.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok