Pompeo: Tiongkok Diharapkan Ikut Serta dalam Dialog AS-Rusia Mengenai Rudal Jarak Menengah

2019-07-31 12:16:27

Berkenaan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang mengharapkan keikutsertaan Tiongkok dalam dialog dan persetujuan masalah rudal jarak menengah, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying, dalam jumpa pers hari Selasa kemarin (30/7) menyatakan bahwa hal tersebut merupakan pelepasan tanggung jawab.

Dikabarkan, Menteri Luar Negeri Tiongkok Mike Pompeo hari Senin lalu (29/7) menyatakan, AS dan Rusia telah mengadakan dialog strategis mengenai masalah rudal jarak menengah, dan pihak Tiongkok juga diharapkan dapat ikut serta dalam dialog tersebut. Persetujuan terkait hendaknya meliputi Tiongkok. Ketika menjawab pertanyaan wartawan, Hua Chunying menunjukkan, mengenai pernyataan Pompeo tentang partisipasi Tiongkok dalam dialog dan persetujuan AS-Rusia, pihak Tiongkok menganggap bahwa hal tersebut merupakan sebuah pelepasan tanggung jawab. Tiongkok berpendirian untuk melarang secara menyeluruh dan secara total memusnahkan senjata nuklir, namun perlucutan senjata nuklir hendaknya menaati prinsip pokok perlucutan senjata yang diakui secara internasional, yaitu hendaknya tidak merugikan keamanan berbagai negara. AS tetap merupakan negara senjata nuklir terbesar di dunia, dan memiliki tanggung jawab istimewa dan prioritas di bidang perlucutan senjata nuklir. AS hendaknya bersungguh-sungguh menjalankan perjanjian yang ada saat ini, mengurangi senjata nuklirnya dalam skala besar, dan menciptakan kondisi bagi partisipasi negara-negara lain dalam perundingan perlucutan senjata nuklir dan bukannya mengelakkan tanggung jawab terhadap negara lain.

Dikabarkan pula, Menteri Luar Negeri Jepang Kono Taro, hari Senin lalu (29/7) mengatakan, kini, negara-negara yang belum menandatangani Perjanjian Rudal Jarak Menengah masih terus memperluas persenjataannya. Jika perjanjian tersebut gagal, maka harus dibentuk sebuah kerangka baru yang mencakup AS, Rusia, Tiongkok, Inggris  dan Prancis. Berkenaan dengan hal itu, Hua Chunying mengatakan, mengenai masalah multilateralisasinya Perjanjian Rudal Jarak Menengah, ini merupakan perjanjian bilateral yang dicapai oleh AS dan Rusia, dan multilateralisasinya mencakup serangkaian masalah rumit antara politik, militer dan hukum, sehingga mengundang keprihatinan banyak negara dan mutlak tidak akan disetujui oleh Tiongkok. Kerangka baru yang disebut Kono Taro sama sekali bukan sebuah gagasan baru. Kerangka tersebut tidak bermanfaat bagi perjanjian tersebut, namun justru malah menyediakan dalih bagi AS untuk secara sepihak mundur dari perjanjian tersebut. Yang perlu ditekankan adalah, Tiongkok selalu mempertahankan kebijakan pertahanan nasional defensif, pengembangan kemampuan rudal jarak menengah sepenuhnya bertujuan defensif, Tiongkok tidak berniat dan juga tidak akan mengancam negara manapun. Tujuan sejati AS untuk mundur dari perjanjian ialah melepaskan diri, tapi ia mencari alasan dengan mempersoalkan Tiongkok, hal ini sama sekali tidak adil dan juga tidak dapat diterima Tiongkok. Jika Jepang benar-benar memperhatikan masalah keamanan regional, maka Jepang hendaknya membujuk AS untuk tidak mundur dari perjanjian tersebut.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok