Status Negara Berkembang Tiongkok Tidak Dapat Dirampas

2019-07-28 11:16:52

Gedung Putih AS meminta wakil perdagangan AS mengambil segala cara untuk menjamin pelaksanaan reformasi oleh WTO terhadap status negara berkembang anggota WTO, dan mengancam kalau tidak kelihatan kemajuan nyata dalam 90 hari, AS mungkin mengambil aksi sepihak. Perbuatan yang memberi ultimatum mengungkapkan AS yang memandang remah dan menginjak-injakkan terus terang terhadap peraturan WTO.

Diketahui umum, klafikasi status anggota sebagai negara berkembang di WTO adalah perbuatan yang ada dalam jangka panjang di organisasi ini. Anggota negara berkembang yang memperoleh perlakuan khusus dan berbeda dapat menjamin pertumbuhan terus ekonominya, sejak dini terdapat di dalam sistem perdagangan kini, adalah batu pangkalan penting dalam sistem perdagangan global.

Akan tetapi, AS selalu tidak suka prinsip WTO ini, berpendapat bahwa negara yang berkembang pesat memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan status ini, selalu meminta pelaksanaan reformasi. Setelah Tiongkok menjadi komunitas ekonomi kedua terbesarnya pada 2010, suara yang AS meminta perampasan status Tiongkok sebagai negara berkembang kian lantang.

Apakah sebuah negara adalah negara berkembang, tidak bisa tergantung pada satu indeks saja, seharus dipertimbangkan serangkaian indeks terpadu. Tiongkok mempunyai populasi sekitar 1,4 miliar orang, dengan indeks apa, menghadapi masalah yang sama, yakni volume totalnya banyak, tapi angka rata-ratanya kecil. Misalnya, PDB Tiongkok mendekati US $ 14 triliun, tapi kapasitasnya tidak mencapai US $ 10 ribu, tidak mencapai level rata-rata di dunia, dan satu per enam AS. Selain itu, di Tiongkok terdapat kota modern seperti Beijing, Shanghai, tapi terdapat pula 500 lebih kapupaten yang tidak mampu dan 16 juta orang belum lepas dari kemiskinan.

Hakiki kesenjangan antara Tiongkok dan AS adalah kesenjangan antara negara berkembang yang terbesar dengan negara maju yang terbesar.

Pekan depan, negosiasi tingkat tinggi ekonomi dan perdagangan Tiongkok dan AS putaran ke-12 akan digelar di Shanghai. Pada saat ini AS mencoba memberi tekanan kepada WTO dengan segala cara untuk memaksa WTO melaksanakan reformasi terhadap status negara berkembang, tidak dikarenakan peraturan WTO kini tidak bisa memenuhi permintaaan AS, juga dikarenakan percobaan pemberian tekanan terus kepada Tiongkok.

Akan tetapi, AS mempunyai taktik apa, peraturan penanganan apa yang dibutuhkan dunia selalu akan dibahas dan ditetapkan oleh komunitas internasional, mutlak bukan ditentukan oleh siapa yang lebih kuat. Tiongkok selalu mendukung pelaksanaan reformasi terhadap WTO agar meningkatkan kewibawaan dan efesiensinya, namun menekankan pula reformasi harus memelihara nilai inti sistem perdagangan multilateral dan menjamin hak dan kepentingan perkembangan anggota negara berkembangnya dan menaati mekanisme pengambilan keputusan dengan bersepakat melalui konsultasi. Tiongkok bersedia memikul kewajiban yang sesuai dengan level perkembangan ekonomi dan kemampuannya di WTO, dengan tegas memelihara hak dan kepentingan anggota negara berkembang. Di bidang memelihara kepentingan inti negara dan hak dan kepentingan rakyat, Tiongkok akan bicarakannya dan laksanakannya, sia-sia saja tekanan dan pemerasan apa terhadap Tiongkok.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok