3 Kebenaran dalam Negosiasi Ekonomi dan Dagang Tiongkok-AS

2019-06-03 11:38:02

Buku putih tentang Pendirian Pihak Tiongkok mengenai Negosiasi Ekonomi dan Dagang Tiongkok-AS yang dikemukakan pemerintah Tiongkok hari Minggu kemarin membentangkan asal-usul negosiasi ekonomi dan dagang Tiongkok-AS, mengklarifikasi kebenaran dari sudut dampaknya pergesekan ekonomi dan dagang Tiongkok-AS, perbuatan AS yang terus membelakangi komitmennya dalam proses negosiasi dan pendirian berprinsip pihak Tiongkok terhadap negosiasi dalam rangka membantu masyarakat internasional mengenal kebenaran secara menyeluruh dan obyektif.

Dalam waktu lebih dari satu tahun yang lalu, Tiongkok dan AS totalnya mengadakan 11 putaran negosiasi ekonomi dan dagang khusus tingkat tinggi dan pernah mencapai kemajuan substansial. Namun, pihak AS berulang kali berubah sikapnya dan berkali-kali menaikkan tarif, dan menyalahkan sebab terkandasnya negosiasi kepada pihak Tiongkok dengan maksud memberikan tekanan semaksimal, mengupayakan kepentingan multak dan mengelabui masyarakat internasional.

Dilihat secara kongkret, buku putih sepanjang 8 ribu huruf itu mengklarifikasi 3 kebenaran mengenai negosiasi ekonomi dan dagang Tiongkok-AS.

Pertama, negosiasi ekonomi dan dagang Tiongkok-AS mengalami kekandasan serius, dan sebabnya ialah pihak AS 3 kali melanggar komitmennya.

Pihak AS mencela pendirian Tiongkok mengalami kemunduran dan maksudnya ialah melemparkan tanggung-jawab terkandasnya perundingan kepada Tiongkok dan mencari dalih bagi penaikan tarifnya. Padahal, justru pihak AS bersikap agresif, tidak mementingkan kredibilitas dan memberikan tekanan semaksimal sehingga perundingan mengalami kekandasan serius. Buku putih meninjau kembali pelanggaran komitmen oleh pihak AS masing-masing pada bulan Maret 2018, Mei 2018 dan Mei 2019, sementara menunjukkan bahwa justru pemerintah AS mempertahankan tuntutan yang tidak masuk akal, mempertahankan tidak menghapuskan semua tariff yang dinaikkan sejak terjadinya pergesekan perdagangan dan mempertahankan dicantumkannya tuntutan paksaan yang menyangkut kedaulatan Tiongkok ke dalam persetujuan sehingga kedua pihak gagal menutupi perselisihan tersisa.

Kedua, inovasi iptek Tiongkok berasal dari upaya berjuang keras dengan berdiri di atas kaki sendiri, bukan dari pencurian dan perampokan.

Alasan utama perang dagang AS terhadap Tiongkok ialah pembangunan Tiongkok mengandalkan pencurian HaKI dan peralihan teknologi secara paksa. Dalam beberapa putaran negosiasi ekonomi dan dagang, masalah-masalah tersebut juga merupakan keprihatinan utama pihak AS. Berkenaan itu, buku putih dengan menggunakan data dalam jumlah besar khususnya pandangan kamar dagang dan majalah AS mengadakan penjelasan di bidang-bidang pembangunan sistem perlindungan HaKI, indeks inovasi dan sikap Tiongkok untuk menentang peralihan teknologi secara paksaan. Ini menunjukkan, celaan pihak AS sama-sekali tidak berdasar dan adalah tidak masuk akal langkah-langkah pihak AS untuk menaikkan tarif dan membatasi investasi.

Ketiga, menaikkan tarif tidak menguntungkan negara lain dan juga tidak menguntungkan diri sendiri, dan tak mungkin memungkinkan AS menjadi perkasa kembali.

Pihak AS menyatakan, penaikan tarif menguntungkan diperkecilnya defisit perdagangan Tiongkok-AS dan pendorongan pertumbuhan ekonomi AS. Namun, kenyataannya ialah, defisit perdagangan komoditi AS terhadap Tiongkok tahun 2018 naik 11,6 persen dibandingkan tahun 2017, ekspornya kedelei terhadap Tiongkok anjlok 50 persen, ekspor otonomif turun 20 persen ke atas. Data-data dari lembaga AS dan IMF yang dikutip buku putih membuktikan bahwa penaikan tarif telah menambah ongkos produksi perusahaan AS, menaikkan harga barang di dalam negeri AS, mendampak pertubmuhan ekonomi dan kehidupan rakyat AS, menghambat ekspor AS terhadap Tiongkok, sementara mendatangkan tantangan serius bagi rehabilitasi ekonomi global dan ancaman besar bagi tren globalisasi ekonomi. Adalah proposisi salah pernyataan pihak AS bahwa perang dagang akan memungkinkan AS perkasa kembali.

Sementara itu, buku putih menegaskan kembali prinsip pihak Tiongkok tentang negosiasi ekonomi dan dagang, yaitu saling menghormati, sama derajat dan saling menguntungkan, bertindak menuju arah sama dan mengutamakan kredibilitas, sementara menegaskan bahwa pihak Tiongkok mutlak tidak mundur pada masalah penting dan berprinsip. Ini berarti, kalau Tiongkok dan AS terus mengadakan negosiasi, harus ditaati prinsip-prinsip tersebut dan kalau ingin mencapai persetujuan, itu harus sama derajat dan saling menguntungkan. Untuk tujuan itu, buku putih mengemukakan, prasyarat dicapainya persetujuan oleh kedua pihak ilah AS membatalkan semua tarif yang dinaikkan dan pembelanjaan harus sesuai dengan kenyataan, sementara harus dijamin keseimbangan dokumen persetujuan dan sesuai dengan kepentingan bersama kedua pihak.

Tentang perang dagang, tidak berubah sikap Tiongkok yang tidak rela berperang, tidak takut berperang, dan terpaksa berperang kalau perlu. Biar bagaimanapun perubahan situasi ke dapan, Tiongkok akan dengan baik menangani urusannya sendiri karena itu adalah cara fundamental untuk menanggapi pergesekan ekonomi dan dagang dengan mengembangkan diri melalui reformasi dan keterbukaan.



Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok