Janganlah Gelisah, Tiongkok Tidak Bermaksud Menggantikan AS

2019-05-30 10:46:10

Baru-baru ini adanya politikus yang mengklaim bahwa “ekonomi Tiongkok sedang cepat mengejar AS dan akan menjadi lebih kuat dari pada AS,” sementara menyatakan bahwa “Tiongkok janganlah pikir menjadi negara adi kuasa nomor satu di dunia”. Sebenarnya, Tiongkok tak pernah berpikir untuk menggantikan AS dan menjadikannya sebagai target perkembangan. Prasangka politikus AS yang menjadikan Tiongkok sebagai musuh imajiner justru mengekspresikan mereka sedang terjerumus dalam “kegelisahan strategis”.

Sesudah berakhirnya perang dingin, AS telah menegakkan statusnya sebagai satu-satunya negara adi kuasa di dunia. Sampai saat ini, AS jauh lebih maju dari pada negara-negara lainnya di bidang-bidang ekonomi, moneter, iptek dan kekuatan militer. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, anggaran belanja militer AS pada tahun 2018 senilai lebih dari US$ 640 miliar, nomor satu di dunia.

Biarpun demikian, sejumlah orang AS tetap merasa “tak cukup aman”, karena mereka selalu gila pada unggul dan aman mutlak. Meninjau kembali sejarah, AS berhasil merobohkan Uni Soviet dengan melakukan persaingan persenjataan, menekan kebangkitan ekonomi Jepang dengan cara nilai tukar perdagangan, melancarkan perang terhadap negara-negara lainnya dengan berbagai alasan, sehingga menjadi “pembuat keributan” yang terbesar di dunia sekarang ini.

Kekuatan ekonomi dan iptek Tiongkok telah mengalami perkembangan pesat selama 40 tahun sejak pelaksanaan kebijakan reformasi dan keterbukaan, kesenjangan kekuatan negara antara Tiongkok dan AS menjadi semakin kecil, namun antara kedua pihak tetap terdapat kesenjangan yang sangat besar.

Walau demikian, sebagian politikus AS semakin bermusuhan terhadap Tiongkok, karena perbuatan hegemonis mereka sedang mengalami boikot keras dari arus perkembangan globalisasi, maka mereka merasa takut karena kemerosotan kekuatannya, terjerumus dalam kegelisahan yang takut Tiongkok menjadi lebih maju dari pada AS.

Mengenai hal tersebut, Mantan Presiden AS Jimmy Carter dengan sadar menyatakan bahwa dia tidak khawatir Tiongkok akan menjadi negara besar nomor satu dengan melampaui AS, sumber kesulitannya terletak pada hal bahwa “AS adalah negara yang paling haus perang di dunia.”

Dibandingkan dengan AS, dalam kebudayaan Tiongkok tercantum pasal-pasal “has perang pasti musnah walau negaranya besar” dan “yang paling berharga adalah harmonis”. Walau sudah menjadi komunitas ekonomi terbesar kedua di dunia, namun Tiongkok tetap tergolong negara berkembang yang paling besar di dunia, produk domestik bruto (PDB) per kapita Tiongkok pada tahun lalu baru saja mendekati US$ 10 ribu, tak sampai seper enam AS, di seluruh negeri tetap terdapat 16 juta penduduk belum terlepas dari kemiskinan.

Bagi Tiongkok sekarang, tugas sekarang dan selanjutnya tetap adalah memfokuskan pembangun ekonomi dan perkembangan negara, agar rakyat hidup sejahtera, bahagia dan lebih indah. Tiongkok hanya berpikir untuk menangani urusannya sendiri, tidak berkemampuan untuk menggantikan AS, lebih-lebih tidak berkeinginan untuk melakukan persaingan buruk yang bersifat mengauskan dengan negara-negara lainnya.

Adapun politikus AS yang berpendapat bahwa perkembangan Tiongkok bertujuan untuk mengusahakan hegemoni dunia, inilah salah paham yang terbesar terhadap keadaan negara Tiongkok, atau sengaja menghitamkan Tiongkok. Kalau biar “rasa kegelisahan strategis” itu membesar, maka itulah suatu sinyal yang sangat berbahaya.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok