Perihal Kerugian AS Tidak Layak Dibahas dan Ditentang

2019-05-23 10:49:30

Menangapi argumen mengenai defisit besar-besaran dalam perdagangan antara Tiongkok dan AS yang mengakibatkan kerugian AS dan hilangnya jutaan lapangan pekerjaan di sektor manufaktur, sejumlah pakar Tiongkok di bidang penelitian perdagangan dan ekonomi makro hari Rabu kemarin (22/05) mengatakan, ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan AS saling menguntungkan dan menang bersama. Perihal AS yang menyebut dirinya telah dirugikan tidaklah layak untuk dibahas dan ditentang, pasalnya, tindakan semena-mena pengenaan sanksi dan pajak bea cukai oleh mereka justru merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Selama 40 tahun yang lalu, skala perdagangan antara Tiongkok dan AS meningkat lebih dari 230 kali lipat. Dekan Kehormatan Institut Pembangunan Nasional Universitas Peking Li Yifu mengatakan, pembelian produk Tiongkok oleh AS bukanlah berkah AS kepada Tiongkok, perdagangan antara Tiongkok dan AS saling menguntungkan dan menang bersama.

Sebenarnya, AS mendapatkan keuntungan dari perdagangan antara AS dan Tiongkok. Menurut hasil penelitian Komisi Nasional Perdagangan AS dan Tiongkok, perdagangan antara AS dan Tiongkok menghemat sekitar 850 dolar AS untuk setiap keluarga AS, sama dengan 1,5% dari pendapatan per tahun setiap keluarga AS. Perdagangan antara AS dan Tiongkok tidaklah seperti yang sebagian masyarakat AS katakan, hanya Tiongkok yang memperoleh keuntungan, sedangkan AS dirugikan.

Pakar mengatakan, tahap pembangunan ekonomi Tiongkok dan AS berbeda, status internasional dalam rantai nilai sedunia pun berbeda. Dilihat dari nilai rantai industri, AS berada pada bagian hulu rantaian industri, memperoleh lebih banyak keuntungan dalam rantai industri ini. Menurut periset Pusat Penelitian Hubungan Tiongkok dan AS, Universituas Tsinghua Zhou Shijian, terdapatnya defisit dalam perdagangan antara Tiongkok dan AS ditentukan oleh faktor pendukung kedua negara. Dikatakannya, ciri yang paling menonjol dari produk ekspor Tiongkok adalah harganya murah dan kualitasnya bagus, khususnya barang kebutuhan sehari-hari. Barang-barang seperti ini sangat bergantung pada Tiongkok dan sulit digantikan.

Pakar mengatakan pula, defisit perdagangan besar-besaran AS bukan dikarenakan oleh Tiongkok, namun dikarenakan pengonsumsian yang berlebihan, kurangnya cadangan dan defisit keuangan secara besar-besaran.

Li Yifu mengatakan, dilihat dari keadaan nyata, perbuatan AS yang mengambil tindakan untuk menambah pajak bea cukai terhadap Tiongkok, Kanada, Eropa dan Jepang tidaklah dapat menyelesaikan masalah defisit perdagangan mereka, justru sebaliknya, malah menyebabkan rakyat AS mengeluarkan lebih banyak pengeluaran ketika berbelanja.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok