Cendekiawan: Hanya Kerja Sama Yang Bisa Selesaikan Masalah Tiongkok-AS

2019-05-13 10:29:28

Negosiasi ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi Tiongkok-AS putaran ke-11 berakhir pekan lalu. Beberapa ahli Tiongkok berpendapat bahwa antara AS dan Tiongkok terdapat kepentingan bersama yang luas, dan hanya melalui kerja sama yang bijaksana baru dapat diatasi masalah.

Setelah berakhirnya negosiasi tingkat tinggi Tiongkok-AS putaran ke-11, Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He selaku kepala tim negosiator Tiongkok untuk Dialog Ekonomi dengan AS untuk pertama kali mengungkapkan masalah-masalah konkret yang menjadi keprihatinan utama Tiongkok. Ia menyatakan, persetujuan antara Tiongkok dan AS harus setara dan saling menguntungkan, dalam masalah-masalah prinsipal, Tiongkok mutlak tidak akan memberikan kompromi. Ia menunjukkan, penghapusan tarif tambahan, penetapan volume pembelian perdagangan serta perbaikan keseimbangan dokumen perjanjian adalah tiga keprihatinan Tiongkok, yang harus diselesaikan.

Sebelum negosiasi putaran ke-11, AS menerapkan tarif impor tambahan terhadap barang-barang asal Tiongkok senilai 200 miliar dolar AS. Gao Lingyun dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok berpendapat bahwa “perang tarif” AS tersebut sudah mengalihkan tekanannya kepada para pedagang ritel dan para konsumen AS.

“Kebutuhan pasar AS tidak akan hilang karena penerapan tarif tambahan oleh AS. Setelah importir AS mengimpor produk Tiongkok, tarif tambahan yang dikenakan pada barang asal Tiongkok tersebut akan dirasakan oleh para konsumennya di dalam negeri.”

Liang Ming dari Balai Riset Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Internasional di bawah Kementerian Perdagangan Tiongkok juga berpendapat yang sama. Ia mengatakan, seiring dengan meningkatkan tarif tambahan, perdagangan luar negeri dan investasi Tiongkok sudah mengalami pengalihan signifikan. Di antaranya, impor kedelai dari Brasil dan mobil dari Jepang sudah meningkat secara besar-besaran.

Liang Ming menunjukkan, banyak komoditas yang dibutuhkan AS harus diimpor dari Tiongkok, akan tetapi, dalam listing barang-barang Tiongkok yang dikenakan tarif tambahan sebesar 25 persen, sebagian terbesar komoditasnya mengambil proporsi di bawah 50 persen dari volume total ekspor Tiongkok ke AS, atau dengan kata lain, komoditas itu tidak mengandalkan pasar AS, dan bisa dialihkan oleh Tiongkok ke pasar lainnya.

Walaupun negosiasi putaran ke-11 sudah berakhir tanpa mencapai hasil apa pun, namun Wakil Perdana Menteri Liu He sebagai kepala negosiator Tiongkok berpendapat bahwa perundingan ekonomi Tiongkok-AS belum pecah, dan kedua pihak akan terus melakukan konsultasi.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok