Demi Bumi Yang Indah, Apa Yang Seharusnya Kita Lakukan?

2019-04-29 11:21:49

Baru-baru ini, Filipina dan Malaysia kembali menjadi sorotan dunia karena sama-sama telah menolak impor sampah dari Kanada dan AS. Masyarakat dari kedua negara tersebut bahkan melontarkan komentar yang bernada keras terhadap sampah dari Barat.

Pemrosesan sampah memang bukan hal remeh. Jika tidak ditangani sebaiknya, hal itu bisa menimbulkan pertengkaran antar tetangga, bahkan memicu bentrokan antar negara. Maklumlah pembangunan kampung halaman yang indah tidak boleh diimbangi dengan pembuangan sampah di negeri lainnya yang dijadikan sebagai korban. Manusia seharusnya mengembangkan diri dengan konsep hijau berkelanjutan, berusaha menumbuhkan pola hidup yang hijau, dan benar-benar menempuh kehidupan yang harmonis antara manusia dengan alam raya.

Pada hari Minggu lalu yakni pada 28 April 2019, Ekspo Hortikultura Internasional Beijing 2019 dengan tema “kehidupan hijau dan kampung yang indah” resmi dibuka di Beijing. Sebanyak 110 negara dan organisasi internasional akan menampilkan 1.200 jenis tumbuhan yang baru dan unggul di pameran tersebut. Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya di depan upacara pembukaan mengajak masyarakat internasional agar “bersama-sama membangun Bumi yang indah sebagai kampung halaman seluruh masyarakat, dan bersama-sama membentuk komunitas senasib sepenanggungan umat manusia”.

Walaupun industrialisasi telah membawa kekayaan dalam jumlah besar kepada manusia, namun bersamaan itu, manusia dihadapkan pula kenyataan buruk,yakni dalam proses perkembangannya, ekosistem di mana kita hidup kerap kali mengalami kerugian dan kerusakan. Pada tahun 1960-an, terjadi kebakaran sungai yang tercemar polusi. Bencana akibat berbagai macam polusi juga kerap kali terjadi di Tiongkok.

Masih mungkinkah bintang di langit terpantau dan bunga harum tercium dalam proses industrialisasi saat ini? Jauh sebelumnya Tiongkok sudah melakukan introspeksi terhadap pola pertumbuhan ekonomi, dan memulai pelestarian ekosistem besar-besaran. Pada 2012, dalam sidang Kongres Nasional PKT ke-18, pembangunan peradaban ekosistem untuk pertama kali dicantumkan dalam agenda umum pembangunan ekonomi dan sosial nasional. Pemikiran Xi Jinping yang berbunyi “sungai bersih dan gunung hijau identik dengan gunung emas” sudah mendapat tanggapan positif dan dukungan luas dari masyarakat Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, “pembangunan peradaban ekosistem” resmi dicantumkan dalam Amandemen UUD Tiongkok.

Pada beberapa tahun terakhir, pembangunan peradaban ekosistem sudah memasuki jalur cepat di Tiongkok, di mana langit kian menjadi biru, gunung kian menjadi hijau, dan sungai kian menjadi jernih. Data satelit yang diungkapkan bandan antariksa AS yakni NASA menampilkan bahwa dibanding 20 tahun yang lalu, dunia menjadi semakin hijau, yang terutama berkat upaya pembuatan hutan di Tiongkok. Kini di Tiongkok, perancangan kebun bunga dan penghijauan sudah berkembang menjadi salah satu profesi atau bisnis yang paling populer di Tiongkok. Warga kian rela membelanjakan uangnya untuk mendandan rumah atau pekarangannya seperti kebun bunga.

Walaupun masih tidak sedikit orang yang menyebut, bahwa demi perkembangan ekonomi, lingkungan mau tak mau harus dikorbankan. Namun semakin banyak orang Tiongkok yang mendukung ditemukannya pola seimbang antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Salah satu kenyataan ialah, Tiongkok menempati peringkat pertama dalam investasi di bidang energi bersih. Sementara itu, pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan di Tiongkok juga berskala terbesar di dunia. Investasi yang dilakukan demi pelestarian lingkungan itu secara fundamental telah mendorong perkembangan ekonomi Tiongkok, dan mengindikasikan kita bahwa perkembangan hijau bisa membawa kemakmuran.

Seperti apa yang dikatakan Presiden Xi Jinping, di hadapan tantangan ekosistem, umat manusia adalah komunitas senasib sepenanggungan, tiada negara mana pun yang bisa menghadapinya secara sendirian. Penanganan perubahan iklim adalah tanggung jawab dan kewajiban bersama bagi semua negara di dunia.

Pembukaan Ekspo Hortikultura Beijing 2019 bertepatan dengan penutupan BRF ke-2. Para pemimpin ke BRF telah mencapai kesepahaman penting, yakni Satu Sabuk Satu Jalan tidak hanya akan dibangun sebagai jalan keterbukaan dan perkembangan, tapi juga harus dibangun menjadi jalan perkembangan yang hijau. Melalui inisiatif Sabuk Jalan, berbagai negara tidak hanya tersambung, tapi juga menjadi komunitas senasib sepenanggungan. Perkembangan hijau tidak hanya memangku kepentingan dan kesejahteraan rakyat zaman sekarang, tapi juga menyangkut masa depan umat manusia.




Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok