Keputusan WTO Tak Tunjuk Siapa Pemenangnya

2019-04-21 13:38:35

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Kamis lalu (18/4) melakukan keputusan mengenai isu dakwaan AS yang diajukannya kepada WTO soal pengelolaan kuota tarif impor Tiongkok termasuk gandum, beras dan jagung. Keputusan WTO berpendapat bahwa langkah-langkah Tiongkok itu kekurangan transparan dan bertentangan dengan komitmen Tiongkok ketika bergabung dalam WTO, sementara itu WTO juga menolak tuntutan AS yang meminta Tiongkok berwajib untuk mengumumkan keadaan pembagian kuotanya.

Tiongkok selalu berpendapat bahwa perselisihan perdagangan antar anggota WTO harus diselesaikan melalui sistem penyelesaian perselisihan WTO, yakni secara inisiatif mengajukan dakwaan untuk memelihara kepentingan perdagangan pribadi dan kewibawaan WTO, sementara harus pula menghadapi dakwaan, menghormati dan melaksanakan keputusan WTO.

Patut ditunjukkan bahwa keputusan WTO terhadap perselisihan perdagangan produk pertanian antar Tiongkok dan AS justru memperlihatkan fungsi penting WTO di bidang pemeliharaan patokan perdagangan multilateral. Keputusan itu tidak menunjukkan siapa pemenang dalam dakwaan itu.

Mekanisme perdagangan multilateral dengan WTO sebagai intinya sedang memainkan peranan soko guru untuk mendorong perkembangan perdagangan global dan membangun ekonomi dunia yang terbuka. Di antaranya, mekanisme penyelesaian perselisihan perdagangan dianggap sebagai “pengadilan” WTO untuk menangani perselisihan perdagangan, tujuannya adalah memelihara keseimbangan hak dan kewajiban para anggotanya sekaligus menjamin implementasi prinsip dan aturan WTO.

Sejauh ini, mekanisme itu telah menerima lebih dari 500 kasus dakwaan, meskipun tidak bersifat memaksa, namun keputusannya dapat diterima umum oleh mayoritas anggota WTO, menang atau kalah adalah hal wajar, para anggota harus mengikuti prinsip konsultasi dan negosiasi WTO, keputusan WTO mengenai dakwaan-dakwaan itu tidak berarti siapa yang menang atau siapa yang kalah.

Tentu saja, WTO perlu juga diperbaiki terus sesuai dengan arus, dan untuk itu sejumlah negara telah mengajukan usulan. Misalnya Uni Eropa meluncurkan “Dokumen Teori Modern WTO”, AS, Eropa dan Jepang menyatakan akan mendorong “kerja saja 3 pihak” untuk meningkatkan reformasi WTO. Pada November lalu, Tiongkok juga mengumumkan 3 prinsip dan 5 pendirian mengenai reformasi WTO, intinya adalah memelihara mekanisme perdagangan multilateral dengan patokan sebagai dasarnya, mencegah proteksionisme, demi lebih baik memainkan peranan WTO.

Dakwaan perselisihan perdagangan mengenai produk pertanian antar Tiongkok dan AS hanyalah satu kasus normal yang dihadapi Tiongkok. Justru seperti dikatakan oleh mantan Direktur Jenderal WTO Pascal Lamy bahwa memang terdapat perselisihan pendapat mengenai aturan WTO antar para anggota, dan pun tiada satu anggota bisa melaksanakan komitmen WTO secara tuntas dan serba baik. Dia memberikan nilai “A+” terhadap kinerja Tiongkok setelah bergabung dalam WTO. Mengenai keputusan WTO demikian taadi, Tiongkok akan secara sungguh-sungguh menanggapinya.

Dengan penyelesaian perselisihan perdagangan dengan anggota WTO sebagai kesempatannya, Tiongkok akan terus mengatur kembali dan memperbaiki perbuatannya dan meningkatkan level komitmen, dalam proses itu terus berkonsultasi luas dengan para anggota WTO untuk mendorong reformasi WTO, sehingga meningkatkan kewibawaan dan definitif WTO, agar dengan baik memelihara perdagangan bebas dan sistem perdagangan multilateral.



Foto Terpopuler

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok