Dari Kesepahaman sampai Menang Bersama, Tiongkok Tingkatkan Hubungan dengan Eropa

2019-04-10 16:28:23

Kunjungan yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke tiga negara Eropa, antara lain Italia, Monako dan Prancis belum lama yang lalu dinilai sudah membuka “musim diplomatik” yang baru dalam hubungan antara Tiongkok dan Uni Eropa. Hubungan tersebut menjadi semakin erat dan penting setelah masyarakat internasional kembali menyoroti kunjungan Perdana Menteri Li Keqiang ke Eropa dan bertemu dengan Ketua Dewan Uni Eropa (UE) Donald Tusk dan Ketua Komisi Uni Eropa Jean Claude Juncker dalam pertemuannya di Brussel pada hari Selasa kemarin (9/4).

Pertemuan pemimpin Tiongkok-UE merupakan mekanisme dialog politik tingkat tinggi antara kedua pihak. Kedua pihak memperingati HUT ke-20 mekanisme tersebut di Beijing pada tahun lalu. Pertemuan ke-21 di Brussel kali ini merupakan titik tolak baru bagi kedua pihak di atas hasil-hasil yang tercapai pada masa lalu. Kedua pihak sepakat bergandeng tangan, memperluas kepentingan bersama, terus memperkokoh hasil-hasil menang bersama yang sudah tercapai untuk menghadapi situasi internasional yang kompleks dan pancaroba.

Dalam pertemuannya di Brussel kali ini, para pemimpin Tiongkok dan Uni Eropa telah mencapai kesepahaman yang luas mengenai multilateralisme, perdagangan bebas, kerja sama iptek, serta perundingan penanaman modal Tiongkok-UE, akses pasar dua arah dan konektivitas antara satu sama lain. Sebagai dua kekuatan penting dalam memelihara perdamaian, kemakmuran dan pembangunan dunia, Tiongkok dan Eropa diharapkan saling berkoordinasi dan beraksi bersama dalam proses menjaga pembangunan dan kemakmuran serta pemerintahan global.

Bekerja sama dan menang bersama merupakan daya pendorong kuat bagi peningkatan kerja sama Tiongkok dan UE. Dalam proses mewujudkan kesepahaman menjadi kenyataan menang bersama, Tiongkok dan Eropa telah mengatasi satu per satu masalah, dan melalui upaya bersama telah menjalin hubungan saling kepercayaan yang semakin kuat. Perdana Menteri Li Keqiang menunjukkan, Tiongkok akan terus memperluas keterbukaan dan akan menggulirkan kebijakan yang baru untuk terus mengoptimalkan kemudahan berusaha, dalam rangka menyediakan iklim bisnis yang tidak memandang bulu bagi perusahaan baik domestik maupun luar negeri. Tiongkok dan UE sepakat membina ekologi bisnis kompetitif yang adil bagi satu sama lain melalui penerapan kebijakan non diskriminatif bagi perusahaan dari kedua pihak.

Sejak memasuki tahun 2019, Eropa menghadapi semakin banyak unsur yang tidak stabil dan tantangan yang berat. Dalam situasi itulah, di internal UE juga muncul kekhawatiran, bahkan kesalahpahaman terhadap Tiongkok. Justru seperti apa yang ditulis Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dalam artikelnya di Harian Handelsblatt Jerman bahwa Tiongkok dan negara-negara Eropa terletak di benua yang berbeda, di mana kedua pihak memiliki sejarah, kebudayaan, sistem sosial dan jalan pembangunan yang berbeda, maka wajarlah jika muncul pandangan berbeda, bahkan pergesekan antara kedua pihak. Melalui kerja sama pragmatis dan peningkatan saling pengertian, maka kini semakin banyak rakyat Eropa menyadari bahwa diadakannya sinergi antara inisiatif Belt and Road dengan strategi konektivitas Eurasia akan membawa peluang bagi kedua pihak. Mekanisme kerja sama antara Tiongkok dengan negara-negara timur dan tengah yakni CEEC atau format 16+1 bukanlah mekanisme eksklusif, melainkan pelengkap yang menguntungkan bagi kerja sama Tiongkok-Eropa.

Kerja sama pragmatis Tiongkok-Eropa kini terus meningkat dan telah mencapai hasil-hasil signifikan sehingga menyejahterakan rakyat dari kedua pihak. Kini tercatat belasan negara Uni Eropa, antara lain, Polandia, Hungaria, Yunani dan Portugal telah menandatangani MoU dengan Tiongkok seputar kerja sama dalam kerangka inisiatif Belt and Road. Italia merupakan negara pertama dari kelompok G-7 yang menandatangani perjanjian kerja sama Belt and Road dengan Tiongkok. Kanselir Jerman Angela Merkel dalam pertemuan puncak UE pada bulan lalu menyatakan, Jerman akan memainkan peranan positif dalam kerja sama inisiatif Belt and Road demi terwujudnya target saling menguntungkan. Harian Handelsblatt Jerman dalam komentarnya menunjukkan, inisiatif Belt and Road akan menyediakan peluang historis bagi Eropa, dan manfaatnya nyata sekali. Harian tersebut mengimbau masyarakat melepaskan kesalahpahaman dan menyayangi peluang terakhir bagi Eropa untuk memainkan peranan pentingnya di dunia pada masa mendatang.



Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok