Membaca Tiongkok dari 3 Sudut

2018-12-18 10:49:46

Tahun ini genap 40 tahun reformasi dan keterbukaan Tiongkok. Suara masyarakat Barat bertambah banyak mengenai ke mana masa depan Tiongkok, apakah Tiongkok adalah mitra atau saingan, dan apakah Tiongkok adalah peluang atau tantangan. Di latar belakang ini, Konferensi Internasional “Membaca Tiongkok” ke-3 yang digelar di Beijing hari Minggu lalu (16/12) mempunyai arti luarbicara.

Sebagai konferensi internasional yang bertujuan untuk mendorong pengertian dunia terhadap Tiongkok dan mendorong pertukaran dan kerja sama antara Tiongkok dan negara-negara asing, Konferensi Internasional “Membaca Tiongkok” pernah diadakan dua kli di Beijing masing-masing pada 2013 dan 2015. Konferensi kali ini dihadiri sekitar 600 orang, antara lain 40 politikus, ahli strategi dan pengusaha yang terkenal di dunia. Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam surat ucapan selamatnya menegaskan Tiongkok akan terus memperdalam secara menyeluruh reformasi, dan memperluas keterbukan, mempertahankan gagasan pembangunan yang baru, mendorong perkembangan bermutu ekonomi Tiongkok dan menyediakan lebih banyak peluang kerja sama kepada dunia. Pernyataan ini dengan tegas menanggapi keprihatinan masyarakat Barat dan juga menyempatkan para tamu mancanegara mengadakan diskusi berkisar pada tema konferensi “Tenaga Pendorong Pembangunan Tiongkok, Peluang Baru Kerja Sama Global”.

Berbagai argumen masyarakat internasional khususnya masyarakat Barat mengenai Tiongkok terutama 3 pertanyaan, antara lain, apakah negeri Tiongkok? Dari mana negeri Tiongkok dan ke mana Tiongkok pada masa depan?para tamu mancanegara yang menghadiri konferensi kali ini memberikan jawannya.

Mengenai pertanyaan pertama, Anggota Politbiro Komite Sentral PKT, Ketua Kantor Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT Yang Jiechi dalam pidato di depan upacara pembukaan menunjukkan, masyarakat internasional dapat membaca Tiongkok dari segi-segi Tiongkok senantiasa mempertahankan pembangunan damai, mendorong kerja sama dan menang bersama, mempertahankan keadilan, memprakasai keamanan universal dan menguyapakan keharmonisan sementara membiarkan adanya perbedaan. Ketua Kantor Penerangan Dewan Negara Tiongkok Xiu Ling menunjukkan, harus membaca Tiongkok dengan pandangan historis, obyektif dan berorientasi masa depan, dan menyadari bahwa reformasi dan keterbukaan adalah ciri has Tiongkok modern yang paling kentara dan juga langkah krusial yang menentukan nasib Tiongkok modern.

Mengenai pertanyaan kedua, Ketua Balai Riset Strategi Inovasi dan Pembangunan Negara Tiongkok Zheng Bijian dengan kata “dualitas” melukiskan kemajuan dan kekurangan Tiongkok modern. Misalnya, di satu aspek, melalui reformasi dan keterbukaan selama 40 tahun, PDB Tiongkok naik dari 360 miliar yuan sampai 82 triliun yuan, namun PDB perkapita Tiongkok hanya menempati urutan ke-70 di dunia; Di satu aspek, Tiongkok adalah negeri besar manufaktur dunia, namun, industri manufaktur Tiongkok masih berada pada taraf menengah dan bawah. Dualitas ini menunjukkan, pemulaian kembali reformasi dan keterbukaan Tiongkok berdasarkan dicapainya kemajuan historis dalam 40 tahun ini dan juga di atas dasar menghadapi kontradiksi utama sosial yang baru.

Tentang pertanyaan ketiga, yaitu ke mana Tiongkok pada masa depan? Para wakil berpendapat, jaawannya adalah jelas, yaitu target perkembangn ekonomi dan sosial negara yang dikemukakan dalam Kongres PKT ke-19, yaitu pada tahun 2020 merealisasi secara menyeluruh masyarakat sejahtera moderat dan pada tahun 2035 direalisasi pada pokoknya negara perkasa modern sosialis dan sampai pertengahan abad ini dirampungkan pembangunan negara perkasa modern sosialis yang kaya, demokratis, beradab, harmonis dan indah.

Pendapat-pendapat ini disetujui mantan Perdana Menteri Inggeris Gordon Brown. Ia dalam pidatonya menunjukkan, pembentukan komunitas senasib manusia bukan hanya teori saja, akan dibuktikan praktek, dan waktu akan lebih cepat daripada apa yang dibayangkan. Ia menghimbau dibangunnya sebuah dunia konektivitas dan manusia lebih membutuhkan kerja sama internasional daripada waktu kapanpun untuk mengalahkan proteksionisme.



Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok