Pembawa Acara Taiwan Tanggapi Pidato Wakil Presiden AS

2018-10-08 11:56:45

China Times Taiwan belakangan ini memuat artikel komentar Huang Zhixian, pembawa acara wanita Taiwan dengan judul Tanggapan Akan Pidato Wakil Presiden AS Pence. Isinya sebagai berikut.

Sungguh sesalnya celaan dan fitnahan dari Anda terhadap Tiongkok tanpa peduli kenyataan menjelang pilkada tengah AS.

Ternyata terhadap sejarah yang benar dan lengkap Anda tidak mengenal betul, atau tidak menyinggung secara sengaja. Tiongkok tidak pernah berhutang pada AS, melainkan penuh niat baik pada AS.

Dalam sejarah, ketika Tiongkok dan AS bekerja sama, selalu bermanfaat bagi perdamaian dunia, AS pun memperoleh keuntungan besar. Ketika Tiongkok diagresi, hampir dipecahbelahkan, meskipun AS mempunyai wilayah yang luas, penghasilan pun subur, namun tidak pernah absen. Inggris merebut konsesi di Tianjin, AS pun mendapat konsesinya tapi malas menggunakannya, bahkan beralih hak kepada Inggris secara diam-diam.

Anda sempat menyinggung Ganti Rugi Gengzi (tahun 1900). Ketika tentara aliansi delepan negara menyerang masuk ke kota terlarang, setelah Tiongkok dirampas, terpaksa pula memberi ganti rugi dalam jumlah besar, 450 juta Liang perak sekitar 22,5 juta kilogram perak, ini merupakan pendapatan keuangan Tiongkok lima tahun.

AS mempunyai pandangan dalam dan jauh karena AS telah selesai ekspansi, yang AS inginkan adalah daya pengaruh kepentingan ekonomi dan politik.

Rancangan anti Tionghoa AS pada tahun 1905 menyebabkan masyarakat Tiongkok memboikot barang-barang asal AS. Dalam tiga tahun, pengembalian sebagaian uang ganti rugi kepada Tiongkok bertujuan meredakan kemarahan rakyat Tiongkok. Pengembalian uang ganti rugi Gengzi AS sebenarnya mengembalikan bagian yang dianggap AS bagian diambil kelebihan. Ketika itu, Tiongkok tetap menyerahkan uang ganti rugi sepenuhnya menurut jadwal, AS mengembalikan sebagian uang kepada yayasan tertentu. Dengan demikian, Tiongkok mempunyai siswa Gengzi yang belajar ke AS dan sekolah Tsinghua, namun AS menggunakan kebanyakan uang kembalian ini pada AS sendiri untuk ekspansi daya pengaruh di Tiongkok dalam jangka panjang.

Ketika Perang Dunia II, Jepang mengagresi Tiongkok, Tiongkok diisolasi, AS tidak mengulurkan tangan untuk membantu Tiongkok. Walaupun pada saatnya yang paling urgen di Tiongkok, AS tetap menyediakan material kepada Jepang, Sampai Jepang menyerang pelabuhan mutiara, AS baru mengumumkan berperang dengan Jepang. Kendatipun demikian, Tiongkok tetap tidak mendapat penerimaan dan bantuan yang pantas dari AS. Kesengsaraan Tiongkok yang korbannya jutaan dan hampir dipunah negara tidak patut disinggung bagi negara lain.

Yalta, AS dan negara lain mengorbankan Tiongkok. Pulau Diaoyu adalah bagian wilayah Tiongkok, tapi pasca perang dunia tidak dikembalikan kepada Tiongkok, melainkan AS memberi hak pengelolaan kepada Jepang dengan kedudukan

Occupier. AS diam-diam saja selama belasan tahun terhadap kejahatan pasukan 731 yang mengerikan karena laporan uji coba diserahkan kepada AS oleh Jepang.

Tiongkok mengalami agresi berkali-kali, perang saudara dan kesalahan bermacam-macam, sampai kini baru stabil. Negara tetap belum bisa disatukan. Tiongkok tetap mempunyai kekurangan yang banyak di berbagai bidang. Namun setelah reformasi dan keterbukaan, kekayaan rakyat dengan jumlah 1,4 miliar adalah perdana dalam sejarah umat manusia. Rakyat Tiongkok sangat menghargainya.

Kestabilan negara dan keamanan rakyat Tiongkok kini, tidak diperoleh karena agresi dan penjajahan, melainkan dikarenakan kecerdasan rakyat, sikap mengorbankan diri dan rajinnya. Sedangkan AS memperoleh lebih banyak keuntungan dari perjuangan dan kebangkitan kembali Tiongkok. Orang Tiongkok membeli 30% iPhone, nilai iphone US $ 300, Tiongkok mendapat US $ 10 sebagai bayaran perakitan, dan AS memperoleh US $ 200 ke atas.

Keadaban umat manusia mempunyai jalan pembangunan yang berlainan. Bangsa dan negara yang pernah diagresi, mengapa Tiongkok boleh menempuh jalan yang khas? Jalan demokrasi harus ditempuh secara sungguh-sungguh. Negara mana yang terperosok dalam kekacauan karena namanya demokrasi adalah cermin sebagai peringatan kepada negara lain.

Kini Tiongkok tetap mempunyai kesenjangan yang amat besar dengan AS, tapi Tiongkok akan giat terus agar rakyat bahagia. Namun standar untuk menilai Tiongkok bukanlah standar dari AS. Tiongkok menyadari, AS mempunyai bayangan negatif terhadap kejayaan Tiongkok karena AS ingin mengontrol hegemoni sedunia. Sekarang AS melancarkan pengepungan secara menyeluruh terhadap Tiongkok, tapi hal ini tidak cerdas, karena pendapat yang menguntungkan diri sendiri agar bermanfaat bagi orang lain oleh Tiongkok diyakini lebih bermanfaat bagi umat manusia.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok