Cendekiawan: Perang Dagang AS Tidak Bisa Wujudkan Target Proteksionisme

2018-07-07 15:47:53 CRI

Pada 6 Juli lalu, Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan pengenaan tarif masuk bea tambahan sebanyak 25 persen terhadap produk Tiongkok senilai US$ 3,4 miliar, berarti AS telah melancarkan perang dagang yang berskala terbesar sepanjang sejarah. Para ahli Tiongkok berpendapat, tindakan AS tersebut adalah hegemoni perdagangan yang tipikal. Tiongkok berkeyakinan diri untuk menjaga ekonominya terus berkembang secara sehat.

Dalam daftar produk Tiongkok yang dikenakan tarif tambahan, sebanyak 59 persen produk atau produk dengan nilainya US$ 20 miliar adalah produk yang diproduksi perusahaan modal asing di Tiongkok. Di antaranya perusahaan AS mengambil proporsi cukup berat. Zhang Yansheng dari Pusat Pertukaran Ekonomi Internasional Tiongkok berpendapat, perusahaan AS berada di level tertinggi rantai nilai global. AS ingin memaksanya untuk kembali berkiprah di AS. Ini pada diri sendirinya adalah semacam kemunduran globalisasi, dan upayanya pasti akan sia-sia belaka.

Menurut statistik Biro Umum Kepabeanan Tiongkok, volume total ekspor impor perdagangan barang Tiongkok tahun lalu adalah 27,79 triliun yuan RMB, atau melampaui US$ 4 triliun. Wakil Rektor Balai Riset Ekonomi Makro Tiongkok, Bi Jiyao berpendapat, bahwa AS yang mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk Tiongkok senilai US$ 3,4 miliar tidak akan menimbulkan pengaruh besar terhadap ekspor maupun pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

“Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi domestik Tiongkok terutama terwujud melalui konsumsi dalam negeri, maka dilihat dari jangka pendek, pengaruhnya terhadap ekonomi Tiongkok tidak akan sifinifikan. Apa lagi produk senilai US$ 3,4 miliar itu mencakup kategori dan sektor yang cukup banyak, sehingga pengaruhnya akan tersebar di sekian banyak perusahaan. Perusahaan tertentu, terutama mereka yang melakukan ekspor ke pasar AS akan mengalami terpaan, namun tidak akan menimbulkan pengaruh serius terhadap satu sektor industri.”

Bi Jiyao berpendapat, melalui reformasi dan keterbukaan selama 40 tahun ini, Tiongkok telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Dengan terus meningkatnya kekuatan ekonomi, Tiongkok berkeyakinan untuk mengalahkan hegemoni perdagangan AS.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok