Xi Jinping dan Liangjiahe (Bab III)

2018-07-02 16:42:34

Sesampai di Liangjiahe, Xi Jinping dan rekannya diatur makan di rumah penduduk setempat. Makanan terdiri atas momo (semacam masakan kukus) tepung jagung dan momo tepung kacang polong, kedua-duanya adalah makanan yang terlalu sayang untuk dimakan bagi para petani karena termasuk makanan “mewah”. Saat mereka menyantap, anak-anak petani pun berdiri di pinggir dan menengadah dengan wajah rakus.

Pada hari-hari kemudian, mereka mulai memasak diri sendiri, dan sampai saat itulah, mereka baru tahu betapa sulitnya memasak! Kesulitan pertama adalah mencari rumput dan kayu bakar. Di daerah itu, di mana-mana adalah gunung dan tanah yang tandus, tidak ada pohon, bahkan tidak ada semak-semak, maka sulit sekali untuk memperoleh kayu bakar.

Oleh karena itu, penduduk setempat berkebiasaan menumpuk rumput dan kayu bakar setiap hari. Saat terjadi banjir bandang, kaum petani dengan tak segan-segan mengambil dahan pohon yang terhanyut dalam air banjir tanpa mengindahkan keselamatan dirinya. Pada hari biasa, ada juga penduduk yang mendaki ke tebing bukit untuk memotong kayu bakar, dan kadang-kadang jatuh dari tebing sehingga cedera parah, bahkan meninggal dunia.

Para “pemuda intelektual” yakni Zhiqing tidak mampu mendaki ke tebing bukit, lantas tidak bisa memperoleh kayu bakar dari semak berduri yang tumbuh di sana. Mau tak mau mereka harus puas dengan rumput bakar yang diperolehnya. Melihat kondisinya yang sulit, pemimpin brigade produksi mengizinkan mereka memasak dengan tengkuk jagung simpanan. Dengan demikian, kesulitan mereka untuk mendapat kayu bakar barulah diatasi.

Xi Jinping masih teringat kehangatan yang diberikan penduduk Liangjiahe. Ia mengatakan: “ Saat saya lapar, mereka segera memasak untuk saya; ketika baju saya kotor, mereka mencuci untuk saya, dan ketika celanaku sobek, mereka menjahitnya...”

Di Liangjiahe, Xi Jinping sering kali berpartisipasi dalam pembangunan bendungan.

Waktu itu di pedesaan tidak ada permesinan ukuran besar. Dalam proses pembangunan sebuah bendungan, pembuatan fondasi adalah salah satu proses yang paling menantang karena harus dikerjakan dengan tenaga manusia.

Pembuatan tanggul bendungan biasanya dilakukan pada musim dingin ketika panen sudah selesai. Liang Youchang, salah seorang anggota brigade produksi masih ingat, pada bulan kedua dan ketiga penanggalan Imlek, yakni bulan Maret dan April, ketika es dan salju di tanah baru saja mencair, Xi Jinping menggulung bagian bawah celana dan dengan kaki telanjang, berdiri di air es yang menusuk tulang, sibuk melakukan tugasnya...Xi Jinping yang bekerja rajin selalu mendapat pujian dari rekannya.

Xi Jinping membaca banyak karya sastra Rusia waktu bekerja di pedesaan. Ketika mengenang kembali masa lampau, Xi Jinping mengatakan: “Pemuda yang sebaya waktu itu sangat terpengaruh oleh karya sastra klasik Rusia. Kami ingin menggembleng mental diri sendiri, maka secara suka rela tidur di ranjang tanah tanpa kasur. Saat turun hujan atau salju, kami pun pergi ke luar rumah untuk melakukan penggemblengan. Kami melakukan hal-hal tersebut karena terpengaruh oleh novel-novel Rusia.”

Tak terasa tiga tahun sudah lewat sejak Xi Jinping mulai bekerja di pedesaan Liangjiahe dan dia pun sudah mahir berbicara dalam bahasa dialek Yanchuan. Saat menemui problem yang tidak tahu solusinya, ia selalu belajar kepada penduduk desa, dan berangsur-angsur, Xi Jinping sudah menguasai hampir semua pekerjaan di pedesaan, dan boleh dikatakan telah menjadi petani sejati.”

Di Liangjiahe, Xi Jinping menguasai banyak pengetahuan “lokal”, sementara itu, ia pun mengajarkan penduduk setempat pengetahuan dari “luar”.

Waktu itu, di Liangjiahe ada seorang petani yang malas bekerja dan suka melakukan pencurian. Suatu hari, pria itu ditangkap seketika mencuri bawang hijau milik brigadir produksi. Menurut kelaziman, si pencuri akan dikritik dalam rapat terbuka dan dimaki-maki secara bergiliran oleh setiap anggota brigade produksi. Xi Jinping tidak memaki dia, malah mengobrol dengan si pencuri dan menasihatinya supaya membetulkan kesalahan sampai pencuri itu terus menganggukkan kepala.

Cara penanganan yang diperlihatkan Xi Jinping tersebut mendapat pujian merata para penduduk setempat. Pada hari-hari kemudian, pria yang malas dan suka mencuri itu pun menunjukkan perubahannya dan mulai aktif berpartisipasi dalam produksi, bahkan menjadi anggota brigade produksi yang terpuji.

Lama-kelamaan, tempat inapan Xi Jinping menjadi pusat desa Liangjiahe. Penduduk setempat suka berkunjung ke tempat penginapannya, mengobrol dengan dia dan dengan asyik mendengar Xi Jinping menceritakan kisah sejarah atau kisah-kisah yang terjadi di luar pedesaannya. Xi Jinping benar-benar menjadi seorang petani sejati Liangjiahe.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok