Tiongkok Tanggapi Pergesekan Perdagangan Dengan AS

2018-04-05 09:13:05


Pihak AS kemarin (4/4) mengumumkan daftar komoditas yang dikenakan bea masuk, berencana mengenakan bea masuk 25% senilai US$ 50 miliar terhadap 1.333 produk yang diimpor oleh AS. Untuk membela hak dan kepentingan sah pribadi pihak Tiongkok, aparat terkait pemerintah Tiongkok kemarin sore memutuskan untuk mengambil langkah setimpal terhadap 106 komoditas impor dalam 14 jenis, termasuk produk pertanian seperti kacang kedelai serta mobil, produk kimia dan pesawat terbang, bea masuk sebagai 25%. Penanggung jawab Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan Tiongkok kemarin di Beijing menyatakan, langkah yang diambil oleh pihak Tiongkok adalah terpaksa dan menahan diri, Tiongkok tidak akan tunduk kepada tekanan eksternal apapun, pihak Tiongkok akan melayaninya sampai terakhir apabila ada orang yang bersikeras melancarkan “perang dagang”.

Keterangan pers yang diadakan oleh Kantor Penerangan Dewan Negara Tiongkok kemarin sore telah menarik ratusan wartawan dalam dan luar negeri. Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Shouwen menyatakan kepada media, Tiongkok harus mengambil langkah balasan setimpal apabila negara atau daerah manapun yang mengambil pelarangan dan pembatasan diskriminatif terhadap Tiongkok di bidang perdagangan. Oleh karena itu, Tiongkok baru saja mengumumkan daftar senilai US$ 50 miliar. Perlu dijelaskan, tindakan Tiongkok tersebut diambil secara paksa dan menahan diri.

Wakil Menteri Keuangan Tiongkok Zhu Guangyao kemarin menyatakan, pihak Tiongkok terpaksa mengambil tindakan balasan, kenaikan bea masuk terhadap kacang kedelai AS bertujuan untuk menghormati permintaan kaum petani Tiongkok.

Zhu Guangyao mengatakan, secara terus terang, kacang kedelai AS yang diekspor ke Tiongkok mencapai 62% dari pada semua kacang kedelai yang diekspor oleh AS. Pada tahun 2017, kacang kedelai AS yang diekspor ke Tiongkok sejumlah 32,85 juta ton, mencapai 34,39% dari pada seluruh impor Tiongkok, volume ekspornya terlalu besar. Kaum petani Tiongkok yang menanam kacang kedelai mengajukan permintaan kepada lembaga terkait bahwa subsidi pihak pemerintah AS sudah mendampak kepentingan kaum petani Tiongkok. Kini sampai waktunya untuk mengadakan perundingan atas kerja sama dengan prasyarat saling menghormati, tertapi bukan memaksa pihak lainnya.

Mengenai kekhawatiran laporan penyelidikan “301” dari Kantor Wakil Perdagangan AS terhadap “Made in China 2025”, Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Shouwen menyatakan, “Made in China 2025” sesuai dengan prinsip kewajiban, transparan, terbuka tanpa diskriminasi dalam kerangka Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), pihak Tiongkok menyambut partisipasi berbagai perusahaan dalam dan luar negeri.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok