Wang Yi Paparkan Pendirian Tiongkok mengenai Masalah Nuklir Semenanjung Korea

2017-12-11 11:41:26 CRI

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dalam sebuah seminar pada hari Sabtu lalu (9/12) menyatakan, saat ini situasi Semenanjung Korea masih terjebak dalam lingkaran setan antara unjuk kekuatan dan konfrontasi, sehingga prospeknya kurang menggembirakan. Akan tetapi, yang patut diperhatikan ialah perdamaian masih belum kehilangan harapan, prospek perundingan belum buyar, sehingga pengerahan kekuatan bersenjata sama sekali tidak dapat diterima. Menilik diplomasi Tiongkok pada tahun depan, Wang Yi menunjukkan, pada tahun 2018, Tiongkok akan menjadi tuan rumah Forum Asia Bo'ao dan Pertemuan Puncak Organisasi Kerja Sama Shanghai di Qingdao. Melalui dua ajang tersebut, Tiongkok akan mendorong pembentukan komunitas senasib sepenanggungan dengan memprioritaskan negara-negara berkembang.

Wang Yi dalam pidatonya di depan acara pembukaan Seminar Situasi Internasional dan Diplomasi Tiongkok Tahun 2017 menyatakan bahwa dalam diplomasinya sepanjang 2017, Tiongkok telah merancang cetak biru Satu Sabuk Satu Jalan, mengeluarkan sinyal kuat untuk menuntun arah globalisasi, dan telah memainkan peranan dominan dalam pembinaan hubungan antar negara besar. Hal ini membantu memelihara kestabilan situasi di sekitar Tiongkok dan tren kerja sama regional, sekaligus menandakan "dekade emas" kedua kerja sama BRICS telah dimulai. Diplomasi Tiongkok secara tegas menjaga kedaulatan dan keamanan negara, mengabdi bagi keterbukaan dan pembangunan di dalam negeri, serta mempercepat pembangunan kapasitas untuk melindungi kepentingan Tiongkok di luar negeri. Di samping itu, Tiongkok terus memperbarui metode diplomatik publik dan telah memulai reformasi mekanisme diplomatik yang berorientasi pada kinerja di luar negeri. Ini berarti diplomasi Tiongkok terus mengalami perkembangan secara lahir dan batin.

Meneropong diplomasi Tiongkok pada 2018, Wang Yi mengatakan: "Kongres Nasional ke-19 PKT telah menunjukkan arah bagi upaya diplomasi. Sekjen Xi Jinping dalam laporannya menyatakan akan membangun hubungan antar negara tipe baru dan komunitas senasib sepenanggungan.

Wang Yi menekankan, pembinaan hubungan antar negara tipe baru, kuncinya terletak pada negara-negara besar. Tiongkok akan terus meningkatkan koordinasi dan kerja samanya dengan negara-negara besar termasuk Rusia dan AS serta Eropa, membentuk kerangka hubungan antar negara besar yang pada dasarnya berkembang secara stabil dan seimbang, guna memelihara perdamaian dan ketenteraman dunia, serta mendorong pembangunan dunia secara harmonis.

Wang Yi menambahkan, gagasan Presiden Xi tentang pembangunan komunitas senasib sepenanggungan akan dimulai dari negara-negara tetangga dan berorientasi pada negara-negara berkembang.

Mengenai situasi Semenanjung Korea, Wang Yi menegaskan bahwa situasi Semenanjung Korea saat ini masih terjebak dalam lingkaran setan antara unjuk kekuatan dan konfrontasi, prospeknya kurang menggembirakan. Akan tetapi, harapan perdamaian masih belum hilang, prospek perundingan belum buyar dan opsi penggunaan kekuatan bersenjata sama sekali tidak bisa diterima. Tiongkok berpendapat, ke depannya berbagai pihak hendaknya secara sungguh-sungguh mempertimbangkan usulan Tiongkok tentang "dua penghentian", yaitu AS dan Korea menghentikan latihan militer, dan sebagai imbalannya, Korut menghentikan program nuklirnya. Semua pihak hendaknya berupaya meredakan ketegangan situasi, dan membawa situasi keluar dari "lubang hitam konfrontasi", sehingga dapat menciptakan prasyarat bagi dialog dan perundingan.

Wang Yi menyatakan, terkait masalah nuklir Semenanjung Korea, Tiongkok telah melakukan upaya ekstra dibandingkan pihak-pihak lainnya, dan telah menanggung harga yang lebih mahal daripada pihak mana pun. Tiongkok selalu berpendapat bahwa berbagai pihak harus menaati resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai masalah nuklir Semenanjung Korea. Tiongkok menaati resolusi Dewan Keamanan secara ketat, oleh karena itu pihak mana pun yang mengajukan permintaan yang tidak sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan, mengambil tindakan yang tidak tercantum dalam resolusi Dewan Keamanan, bahkan mengambil aksi sepihak, maka dipastikan dapat merusak persatuan Dewan Keamanan dan merugikan kepentingan sah negara lain. Tiongkok sama sekali tidak menyetujui dan tidak dapat menerima hal ini.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok