Duta Besar Tiongkok untuk UE: Kerja Sama Tingkatkan Kepentingan Bersama Tiongkok dan UE

2017-05-30 11:09:33

Pertemuan pemimpin Tiongkok-Uni Eropa ke-19 akan digelar di Brussel pada 2 Juni mendatang. Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang dan Ketua Komisi UE Jean Claude Junker bertukar pendapat mengenai hubungan Tiongkok-UE serta masalah-masalah regional dan internasional. Duta Besar Tiongkok untuk UE, Yang Yanyi baru-baru ini telah menerima wawancara wartawan CRI mengenai hubungan Tiongkok-UE.

Mekanisme pertemuan pemimpin Tiongkok-UE merupakan mekanisme dialog politik tingkat tinggi antara kedua pihak, merupakan cara efektif untuk memelihara hubungan kondusif antara Tiongkok dan UE, sekaligus wadah bagi kedua pihak untuk membahas masalah-masalah penting.

Yang Yanyi mengatakan, sejak pertemuan tahun lalu, hubungan Tiongkok dan UE secara keseluruhan terpelihara stabil.

“Pertama, kedua pihak terus meningkatkan kepercayaan melalui pertemuan pemimpin dan tiga mekanisme dialog yang masing-masing berfokus pada strategi, ekonomi dan hubungan antar masyarakat. Kedua, kerja sama pragmatis kedua pihak terus berkembang. Di antaranya, perundingan tentang perjanjian investasi, yayasan investasi bersama Tiongkok dan Uni Eropa, konektivitas, komunikasi hukum serta inovasi iptek dan kerja sama antara UKM telah mencapai kemajuan tertentu. Ketiga, hubungan antara masyarakat kedua pihak semakin aktif. Kedua pihak telah menandatangani perjanjian tentang pembebasan visa bagi personel masing-masing pihak yang memegang paspor diplomat untuk mendorong kontak personel antara Tiongkok-UE. Keempat, kedua pihak telah meningkatkan dialog dan koordinasi terkait sinergi inisiatif One Belt One Road dengan strategi pembangunan Eropa, pemerintahan ekonomi global serta penanganan perubahan iklim.”

Yang Yanyi menyatakan, antara Tiongkok dan Uni Eropa terdapat kesepahaman dan kepentingan yang sama, sementara itu juga terdapat perselisihan dan permintaan yang berbeda. Perselisihan itu berbeda-beda, ada yang berfokus pada politik dan sistem sosial, pola pertumbuhan dan ideologi, ada juga yang berfokus pada ekonomi dan perdagangan.

“Saat ini perselisihan antara Tiongkok dan UE kebanyakan berfokus pada ekonomi dan perdagangan. Misalnya UE banyak mengeluh di bidang kelebihan kapasitas produksi besi dan baja serta keterbukaan pasar. Sedangkan Tiongkok telah menyatakan keprihatinan kepada UE untuk melaksanakan kewajibannya berdasarkan pasal ke-15 Protokol Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).”

Mengenai perselisihan tersebut, Yang Yanyi mengajukan tiga butir usulan, yakni pertama, Tiongkok dan Uni Eropa hendaknya memfokuskan upayanya pada kepentingan bersama dan terus memperluas kerja sama pragmatis. Kedua, terus mempertahankan prinsip menangani perselisihan melalui dialog dan perundingan. Yang Yanyi berharap UE dengan sikap yang positif menangani persaingan yang terjadi antara kedua pihak.

Yang Yanyi menyatakan yakin bahwa seiring dengan meningkatnya skala kerja sama, kepentingan bersama antara Tiongkok dan UE akan semakin meningkat, sehingga akan menyediakan lowongan kerja yang lebih banyak, dan menghasilkan pasar konsumsi yang lebih kompetitif, dan masyarakat Tiongkok dan UE akan benar-benar merasakan bahwa keterbukaan dan kerja samalah yang merupakan pilihan tepat bagi kedua pihak.


Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok