Padi Hibrida Tiongkok Atasi “Soal Makan” Asia Tenggara

2019-01-07 10:52:33

“Mengembangkan padi hibrida untuk kesejahteraan rakyat merupakan impianku seumur hidup”, kata Yuan Longping, “Bapak Padi Hibrida”, Akademisi dari Akademi Rekayasa Tiongkok ketika ia mengenangkan kembali penelitiannya atas padi hibrida selama puluhan tahun.

Pada awal tahun 1990-an abad yang lalu, Organisasi Bahan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencantumkan promosi padi hibrida sebagai langkah strategis pertama untuk menyelesaikan masalah kekurangan bahan pangan negara-negara berkembang. Mulai saat itu, sejumlah negara berkembang mulai mempromosi padi hibrida. Yuan Longping beserta timnya berhasil mengembangkan padi hibrida dalam berbagai jenis yang sesuai dengan penanaman negara-negara Asia Tenggara menurut lingkungan tanah dan kondisi iklim berbagai negara. Kini, di Filipina, Indonesia dan Vietnam serta negara-negara Asia Tenggara lainnya terlihat penanaman padi hibrida Tiongkok dalam area yang luas. “Pada ajaib” dari Tiongkok itu telah membawa fajar bagi warga Asia Tenggara untuk menyelesaikan “soal makan”.

Pusat Penelitian Padi Hibrida Tropis Filipina terletak dari Provinsi Laguna, sebelah selatan Manila. Pada awal tahun 1990-an, tim Yuan Longping mengerahkan ahli padi hibrida ke daerah setempat, bekerja sama dengan pusat penelitian tersebut untuk penanaman padi hibrida. Selama hampir 20 tahun, para ahli Tiongkok bersama dengan pusat penelitian tersebut mengembangkan dan mempopulerkan padi hibrida, tidak saja meningkatkan teknik penanaman padi Filipina, tetapi juga menambah pendapatan warga setempat.

Diberitakan, hasil produksi per unit padi nasional Filipina rata-rata mencapai 3,4 ton per hektar, hingga tahun 2018, angka itu sudah naik sampai 4 ton per hektar, hasil produksi bertambah padi tercatat 240 ton sepanjang tahun.

Pada tahun 2010, “program kerja sama teknik padi hibrida Tiongkok-Indonesia” dihidupkan resmi di Indonesia dan diterapkan bersama oleh kedua pihak. Program tersebut berhasil mengembangkan jenis baru padi hibrida yang lebih sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat, sementara menatar sejumlah tenaga teknis setempat, sehingga merealisasi penambahan hasil produksi bahan pangan. Warga setempat menyebut padi hibrida Tiongkok sebagai “super padi ”. Hingga tahun 2015, teknik padi hibrida Tiongkok sudah dipopulerkan di 13 provinsi Indonesia, hasil produksi setiap hektar bertambah satu kali lipat lebih dari pada padi hasil setempat. Kini, tim Yuan Longping aktif membantu petani setempat untuk mengembangkan padi hibrida jenis baru, dalam rangka memperluas pasar ke berbagai negara dan daerah sekitar “Sabuk dan Jalan”.

Selama bertahun-tahun, para ahli padi hibrida Tiongkok secara diam-diam menyumbangkan amalnya dan kecerdasannya di kawasan Asia Tenggara, membantu warga setempat untuk menyelesaikan “soal makan”, memberi kontribusi kepada ketahanan bahan pangan.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok