Dubes Tiongkok: Perang Dagang Tak Dapat Selesaikan Sengketa Dagang

2018-07-23 10:56:54


Artikel Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Xiao Qian, yang dipublikasikan oleh Harian Kompas pada tanggal 19 Juli lalu menunjukkan, tindakan unilateralisme dan proteksionisme yang diambil oleh Amerika Serikat (AS) tak hanya merugikan kepentingan negara-negara lain, tapi juga kepentingan mereka sendiri, serta mengancam kesehatan pembangunan ekonomi global. Dia menekankan keputusan tegas Tiongkok yang terus mendorong reformasi dan keterbukaan, serta menghimbau masyarakat internasional untuk bersama-sama mempertahankan prinsip perdagangan bebas dan sistem perdagangan multilateral.

Dubes Xiao Qian mengatakan hal tersebut dalam artikelnya yang berjudul “Perang Dagang Tak Selesaikan Sengketa Dagang”. Menurutnya, "perang dagang" yang diluncurkan Amerika Serikat terhadap Tiongkok tidak memiliki dasar hukum internasional, bahkan akan membahayakan ekonomi dunia. Kebijakan Amerika Serikat tersebut adalah unilateralisme, proteksionisme perdagangan dan hegemonisme perdagangan yang tipikal. Meskipun begitu, dalam proses jajak pendapat investigasi 301 dalam negeri AS terhadap Tiongkok, jumlah suara yang menentang juga mencapai 91%.

Xiao Qian menunjukkan, dalih yang digunakan pihak Amerika Serikat untuk meluncurkan "perang dagang" terhadap Tiongkok tidak memiliki dasar. Penyebab utama defisit neraca perdagangan AS terhadap Tiongkok adalah tingkat tabungan Amerika Serikat yang terlalu rendah dan peranan dolar AS sebagai mata uang cadangan internasional utama, serta perbedaan daya saing industri dan pembagian kerja internasional. Selain itu, kebijakan pembatasan ekspor produk berteknologi tinggi kepada Tiongkok yang telah lama diberlakukan oleh pihak AS juga merupakan salah satu penyebab defisit perdagangan. Selama ini, pemerintah Tiongkok selalu berusaha menyempurnakan sistem perlindungan hukum hak atas kekayaan intelektual (HaKI). Pada tahun 2017, Tiongkok mengeluarkan 28,6 miliar dolar AS untuk membayar royalti HaKI, yang meningkat 15 kali lipat dibandingkan tahun 2001. Tudingan tentang apa yang disebut “mencuri HKI” tidak memiliki fakta. Pemerintah Tiongkok tak pernah menyampaikan permintaan yang disebut “transfer teknologi paksa” kepada perusahaan asing. Kerjasama teknologi antara perusahaan Tiongkok dengan mitra asingnya tak lain hanya perilaku kontrak berdasarkan prinsip sukarela.

Xiao Qian menunjukkan, Tiongkok tidak mau melakukan "perang dagang" dengan AS, namun terpaksa mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan nasional dan mempertahankan prinsip perdagangan bebas dan sistem perdagangan multilateral. Pihak Tiongkok sangat memandang penting perselisihan perdagangan antara kedua pihak dan selalu mendorong penyelesaiannya melalui dialog dan koordinasi dengan kesungguhan hati dan kesabaran semaksimal mungkin. Menghadapi situasi darurat yang dimunculkan oleh perilaku sepihak Amerika Serikat, pihak Tiongkok terpaksa mengambil tindakan balasan dengan melaporkan tindakan unilateralis Amerika Serikat melalui mekanisme penyelesaian sengketa WTO.

Xiao Qian menyatakan, unilateralisme dan proteksionisme tidak akan menyelesaikan masalah perdagangan melainkan mendatangkan masalah baru. Globalisasi adalah tren era yang tak dapat dibendung, seluruh negara harus bergandengan tangan untuk memperbesar buah ekonomi Internasional melalui kerjasama dan membagi buah ini dengan musyawarah bersahabat. Pihak Tiongkok akan terus melaksanakan reformasi dan keterbukaan, dan secara tegas membela prinsip perdagangan bebas dan sistem perdagangan multilateral.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok