Perusahaan Tiongkok Yang Berkiprah di Asia Tenggara

2018-02-05 11:06:38

XINHUA: Malaysia pernah menjadi negara penghasil karet alam terbesar ketiga di dunia, setelah Thailand dan Indonesia. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, area tanaman pohon karet di Malaysia terus menciut dan tenaga kerjanya juga semakin berkurang gara-gara harga getah karet yang terus menurun, apa lagi pemerintah Malaysia telah mengalihkan fokusnya pada pengembangan industri hilir seperti pabrik pembuatan sarung karet.

Akan tetapi, kelesuan sektor getah karet itu tidak menghalangi langkah perusahaan Tiongkok untuk berinvestasi di Malaysia. PT Guang Ken Rubber (GKR) dari Provinsi Guangdong Tiongkok telah menanam modal sebanyak ratusan juta yuan RMB, dan menjalin kerja sama dengan Bornion Timber SDN BHD Malaysia mulai tahun 2008. Di lahan seluas 30.000 hektar yang disewanya, PT GKR menanam pohon karet dengan mengadaptasi teknik pembibitan Tiongkok. Kebun karet tersebut kini telah berkembang menjadi salah satu kebun karet yang terbesar di Malaysia.

Lai Xionghui, Direktur Umum PT GKR dan Bornion Timber mengatakan kepada wartawan bahwa Asia Tenggara memiliki kondisi iklim yang memadai untuk mengembangkan industri karet karena jumlah produksinya tinggi dan upah buruh juga relatif rendah.

Lai Xionghui mengatakan, para buruh yang dipekerjakan di Malaysia rata-rata berusia antara 20 hingga 30 tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Tiongkok, meskipun upah ditambah sebesar 50 persen, perekrutan buruh tetap saja sulit.

Lai Xionghui menerangkan, kini kebun milik GKR tertanam 770.000 batang pohon karet produktif yang bisa disadap. Lai menyebutkan bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah pohon produktif dari tahun ke tahun, maka ongkos produksinya akan semakin menurun. PT GKR dan Bornion menargetkan 7 juta batang pohon karet produktif dalam beberapa tahun mendatang, hingga saatnya tiba, akan semakin banyak jumlah buruh yang dibutuhkan.

Biasanya sebatang pohon karet baru bisa disadap pada umur 5 hingga 6 tahun. Ini berarti pihaknya akan menanam minimal ratusan ribu batang pohon karet dalam beberapa tahun mendatang. Lai mengatakan, pemerintah setempat memberlakukan kebijakan yang membatasi perekrutan tenaga kerja asing. Oleh karena itu, perekrutan buruh tetap menjadi kendala dan kini mereka masih kekurangan 200 buruh.

Lai Xionghui menambahkan, pihaknya berencana mendirikan sebuah pabrik pengolahan karet untuk memproses produk karet dengan nilai tambah tinggi. “Yang terpenting ialah kami akan memperlihatkan kepada masyarakat setempat bahwa kami akan terus berkiprah di sini dalam jangka panjang,” tutur Lai Xionghui.


Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok