NLD Myanmar: Pertahankan Cita-cita Awal dan Belajar dari Pengalaman Tiongkok

2017-12-13 11:57:53 CRI

Dialog Tingkat Tinggi PKT dengan Partai Politik Dunia digelar di Beijing belum lama yang lalu. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin dari berbagai parpol di dunia, termasuk Menteri Senior Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang juga adalah Ketua Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Myanmar. Aung San Suu Kyi dalam pidatonya menyebutkan bahwa setiap partai politik pasti mempunyai visi sendiri, tapi targetnya sama, yakni mengusahakan perbaikan kehidupan rakyat. NLD mempunyai cita-cita awal yang sama dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), yakni mengupayakan kebahagiaan bagi rakyatnya.

Berbeda dengan partai-partai oposisi yang selalu memprioritaskan "demokrasi" dan "kebebasan" untuk menarik suara mendukung, partai berkuasa di negara mana pun harus benar-benar berupaya menyelesaikan masalah fundamental yang dihadapi masyarakat, dengan demikian, dia baru dapat mempertahankan posisinya sebagai partai berkuasa. Dulu negara-negara Barat memuji Aung San Suu Kyi sebagai aktivis demokrasi, namun dalam penyelenggaraan pemerintahan, Myanmar malah sulit mendapat dukungan dana atau teknologi dari mereka.

Saat ini kerja sama Myanmar dengan Tiongkok terasa semakin penting. Setelah NLD naik panggung, sejumlah analis pernah meramalkan bahwa hubungan Myanmar-Tiongkok akan menjadi "renggang" walaupun kedua negara adalah tetangga. Akan tetapi, setelah NLD berkuasa, Aung San Suu Kyi sudah tiga kali berkunjung ke Tiongkok. Sementara itu, Presiden U Htin Kyaw satu kali berkunjungan ke Tiongkok dan Panglima Tentara Nasional Myanmar Min Aung Hlaing dua kali berkunjung ke Tiongkok. Itu berarti Tiongkok adalah negara yang paling sering dikunjungi pemimpin Myanmar. Perkembangan hubungan kedua negara telah lolos dari ujian perubahan politik di Myanmar. Meningkatkan kerja sama dan komunikasi dengan Tiongkok telah menjadi sebuah kesepakatan bagi pemerintah maupun pihak oposisi Myanmar.

Dalam penyelesaian masalah kerujukan nasional Myanmar, Tiongkok memainkan peranan yang tak tergantikan. Keberhasilan penyelenggaraan Konferensi (Pinlon) Panglong Abad 21 kedua justru berkat upaya Tiongkok sebagai penengah. Konferensi tersebut dihadiri perwakilan dari 7 kekuatan daerah, termasuk Tentara Aliansi Demokratis Nasional Myanmar (TADNM) di Kokang dan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan. Para hadirin di konferensi itu mencapai kesepakatan tentang 37 item dari 45 item yang menjadi topik pembahasan. Mengenai pengungsi Rohingya, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi secara khusus mengajukan gagasan tiga tahap tentang penyelesaian masalah tersebut di sela-sela kunjungannya ke Myanmar dan Bangladesh belum lama yang lalu. Usulan yang diajukan Wang Yi mendapat tanggapan positif dan pujian dari berbagai pihak Myanmar dan Bangladesh.

Di bidang ekonomi, Tiongkok selalu menjadi mitra perdagangan terbesar bagi Myanmar. Volume perdagangan bilateral adalah sebanyak 40 persen dari volume total perdagangan Myanmar dengan luar negeri. Tiongkok secara aktif memberikan bantuan ekonomi, dukungan teknologi dan jaminan tenaga ahli. Tiongkok mendukung Myanmar berpartisipasi dalam pelaksanaan inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan serta pembangunan Koridor Ekonomi Tiongkok-Myanmar-Bangladesh-India. Tiongkok telah mengajukan usulan tentang pembangunan Koridor Ekonomi Tiongkok-Myanmar, tujuannya adalah membantu berbagai daerah di Myanmar mewujudkan perkembangan yang seimbang. Kini usulan Tiongkok telah mendapat tanggapan positif pihak Myanmar.

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok