Dialog Shangri-La Fokuskan Anti-terorisme di Asia Tenggara

2017-06-05 12:49:03

Dialog Shangri-La ke-16 dibuka hari Jumat (2/6) lalu di Singapura. Terkait situasi anti-terorisme yang semakin serius di kawasan Asia Tenggara, petinggi dari Kementerian Pertahanan Indonesia, Filipina dan negara-negara lain memperkenalkan situasi anti-terorisme masing-masing, dan menyerukan agar semua negara bersatu untuk menghadapi tantangan keamanan non-tradisional, termasuk terorisme.

Menhan Indonesia Ryamizard Ryacudu dalam pidatonya menekankan ancaman teroris terhadap seluruh Asia Tenggara. Dia mengatakan, jumlah simpatisan ekstremis di Asia Tenggara mungkin jauh lebih banyak dari pada perkiraan, hal ini cukup membahayakan. Meskipun situasinya cukup serius, namun Ryacudu berpendapat bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menahan ISIS di luar wilayah Indonesia.

Akan tetapi, ancaman terorisme di Filipina telah berkembang menjadi pertempuran yang sengit di kota Marawi, Filipina Selatan. Pertempuran antara tentara pemerintah dengan organisasi ekstrem Maute yang setia pada ISIS telah berlangsung selama belasan hari, menyebabkan lebih dari 30 prajurit pasukan pemerintah tewas.

Wakil Menteri Pertahanan Filipina Ricardo A David dalam pembicaraannya di depan Dialog Shangri-La telah memperkenalkan situasi anti-teroris di negaranya. David mengatakan, militer Filipina sedang melancarkan serangan udara terhadap kaum teroris, berupaya menyelamatkan sandera dan melindungi warga Marawi. Namun anti-terorisme membutuhkan kerja sama bilateral dan multilateral, khususnya pertukaran informasi anti-terorisme. Pendapat Ricardo itu juga memperoleh dukungan dari Ryamizard.

Menhan RI Ryamizard menyatakan, Indonesia mendukung kerja sama antar badan-badan intelijen serta pertukaran informasi intelijen demi menghadapi terorisme. Pertukaran itu bukan hanya dilakukan di internal ASEAN, tapi juga melibatkan negara lainnya.

Ryamizard menambahkan, nelayan dan awak kapal Indonesia dan Malaysia sedang menghadapi ancaman penculikan di daerah perairan Laut Sulu serta ancaman dari militan Abu Sayyaf Filipina. Filipina terus meningkatkan kekuatan militer untuk menghantam bajak laut dan menyelamatkan nelayan yang diculik. Indonesia, Malaysia dan Filipina akan terus melakukan aksi patroli bersama di daerah Laut Sulu, di atas dasar pengalaman sukses pemberantasan bajak laut melalui patroli bersama di Teluk Malaka yang telah dilakukan 3 negara tersebut.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pernah menyatakan harapan agar kapal polisi laut Tiongkok berpartisipasi dalam tugas patroli di daerah perairan Filipina Selatan, keinginan tersebut juga dinyatakan oleh Wakil Menhan Filipina dalam Dialog Shangri-La kali ini.

Seputar hal itu, Direktur Pusat Kerja Sama Keamanan Nasional Kantor Luar Negeri Kemhan Tiongkok Zhou Bo mengatakan, pemberantasan bajak laut adalah kewajiban bersama bagi angkatan laut semua negara menurut Konvensi Maritim Internasional,hal itu telah dilaksanakan Tiongkok dalam aksi perlindungan pelayaran di Teluk Aden.


Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok