Menlu Indonesia: Proses Integrasi ASEAN Punya Hari Depan Cerah

2017-05-04 10:31:56 CRI

Menjelang genap 50 tahun berdirinya ASEAN pada tanggal 6 Agustus, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi dalam artikelnya yang dimuat dalam harian Kompas baru-baru ini menyatakan, ASEAN sedang menciptakan perdamaian dan kemakmuran di kawasannya, namun jarang disebut-sebut. Sebaliknya, banyak orang akan bertanya, apakah hasil yang dicapai oleh ASEAN dalam 50 tahun yang silam? Apakah manfaat yang diberikan oleh ASEAN kepada Indonesia? Apakah ASEAN dapat hidup terus pada zaman ketidakpastian menjadi "normal baru"?

Retno Marsudi dalam artikelnya mengatakan, menciptakan lingkungan ekologi damai di Asia Tenggara bukanlah hal yang mudah. Keadaan di 10 negara anggota berbeda, tingkat perkembangan ekonomi berbeda dan sistem politik juga berbeda. Perbedaan kepercayaan agama para penduduk telah memperlihatkan keragaman ASEAN. Di Asia Tenggara terdapat para penganut agama Islam, Kristen, Budha dan Hindu.

Hanya di Asia Tenggara, berbagai bangsa yang begitu berbeda hidup berdampingan secara rukun. Sejumlah pakar memprediksi keanekaragaman tersebut akan membawa "Balkanisasi" kepada Asia Tenggara, namun sejauh ini prediksi itu tidak terjadi. Prediksi itu tidak menjadi kenyataan, maka patut digembirakan.

Kekhawatiran atas "Balkanisasi" tidak keterlaluan. Dalam sejarah Asia Tenggara pernah terjadi bentrokan-bentrokan antara Indonesia dengan Malaysia, Singapura dengan Malaysia, Vietnam dengan Kamboja, Thailand dengan Kamboja, namun bentrokan-bentrokan tersebut akhirnya diselesaikan.

Artikel mengatakan, para anggota ASEAN seharusnya tidak puas diri terhadap keberhasilan ASEAN selama 50 tahun. Dalam situasi yang tidak stabil dan dunia yang penuh ketidakpastian, ASEAN akan menghadapi tantangan yang paling serius untuk memelihara lingkungan ekologi sebelumnya yang damai dan makmur.

Pertama, ASEAN harus menjadi modernisasi. Misalnya penyederhanaan administrasi, memiliki sekretariat yang kuat, memperhatikan keefektifan. Ribuan kali pertemuan yang digelar setiap tahun akan menyebabkan ASEAN terjerumus dalam "lautan pertemuan" dan gagal memainkan peranannya apabila tidak meningkatkan keefektifan.

Kedua, harus menerapkan kebijakan yang mengutamakan kepentingan orang, memperkecil kesenjangan antara miskin dan kaya serta perkembangan antara berbagai anggota di dalam ASEAN. Lapisan menengah ASEAN mencapai 150 juta pada tahun 2015, diperkirakan akan mencapai 400 juta pada tahun 2020. Kebangkitan lapisan menengah harus memiliki daya penarik untuk perkembangan perusahaan menengah, kecil dan mikro, agar rakyat semakin merasakan manfaat pengintegrasian ASEAN. Para tenaga kerja ASEAN di negara lainnya harus dilindungi semaksimal.

Ketiga, koordinasi dan sentripetal antara ASEAN harus dipertahankan terus. Para anggota harus meningkatkan komitmennya untuk memelihara koordinasi dan sentripetal ASEAN. Tak mungkin timbul sentripetal tanpa koordinasi. ASEAN akan kehilangan daya pengaruh pencipta lingkungan ekologi damai di kawasannya tanpa koordinasi dan sentripetal. Yang lebih mengkhawatirkan ialah ASEAN sebaliknya menjadi "agen" persaingan antara negara besar.

Artikel akhirnya mengatakan, sebagai negara paling besar di antara anggota ASEAN, Indonesia berjanji sepenuhnya untuk mendorong perkembangan ASEAN.

Kalender

Berita:
Berita Tiongkok Berita Internasional Berita Asia Tenggara Berita Unik
Galeri Foto:
Berita Travel Fashion Olahraga
Pariwisata:
Telusuri Tiongkok Peninggalan Sejarah Tionghoa Galeri Wisata Tips
Pedoman Muslim Tiongkok:
Masjid Restoran Halal Obyek Wisata Muslim Pedoman Berbelanja Kebudayaan Muslim Tiongkok
Belajar Bahasa Mandarin:
Belajar Bahasa Mandarin Adat Istiadat Tiongkok Peribahasa Peraturan dan Kebijakan
Belajar di Tiongkok Universitas-Universitas di Tiongkok